Opini

Tanda Cinta “Hati Suhita” Bagi Para Pembaca

“Karena meramu cerita dan meracik tulisan itu juga ada ‘bumbu’ resepnya.” Ning Khilma Anis.

Cerita kehidupan pewayangan adalah akar budaya kita yang bisa menjadi kebanggaan dan perbedaan dengan bangsa-bangsa lain di belahan dunia ini. Dalam setiap karya Ning Khilma ada tema Agama dan Budaya Jawa. Belum lagi pengolahan diksi-diksi yang selalu melibatkan perasaan khas dari seorang (manusia) wanita Jawa.

Begitulah saya mengenal sosok Ning Khilma Anis, penulis buku best seller (“Hati Suhita” dan “Wigati,”) yang sudah barang tentu penggemarnya tersebar di seantero pelosok Nusantara dan sebab cerbung (cerita bersambung) yang diunggah telah menyita perhatian para netizen (generasi milenial) baik di dunia maya maupun di pesantren-pesantren.

Setetes kebahagiaan dan setulus embun pagi membasahi dedaunan yang tersipu malu disapa mentari pagi, saya awali hari ini dengan putaran doa. Bersama petuah-petuah darimu yang menyuguhkan kesejukan kalbu. Saya rasa, buku karyamu itu bukan sekedar hasil panen dari ‘buah’ permenungan tentang tabir kehidupan dunia pewayangan. Melainkan pesan kehidupan dari hati seorang penulis perempuan. Menurut saya, sebagai penulis pemula yang menjadi “pengagum rahasia”-mu, selain tercermin idealis seorang penulis, ada keelokan makna dari setiap barisan diksi yang terpatri, seperti bahasa itu punya rasa. “Mampukah kita menajamkan mata hati dan memperkuat keyakinan bahwa ada kehidupan yang lebih abadi setelah kematian?”.

Ada kebanggaan yang spontan tentang proses pergumulan diri dalam merenungkan aneka peristiwa. Buku “Hati Suhita” mengisahkan tentang konflik yang dialami tokoh Alina dan kekuatan cinta.

Seantero penjuru pesantren tahu bahwa Alina Suhita sudah dijodohkan dengan Gus Birru, anak kandung Pak Yai dan Bu Nyai. Semua orang sepakat bahwa dirinya sempurna untuk disandingkan dengan Gus Birru. Sosok Alina yang cantik, kalem, dan mempunyai 30 juz hafalan Al-Qur’an membuat siapa saja tertarik padanya.

Nyatanya tak begitu, setelah ijab Kabul yang disaksikan oleh banyak pihak, Gus Birru tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Tak ada malam pertama. Tak ada kata-kata romantis keluar dari mulut Gus Birru. Jangankan itu, tidur pun selalu terpisah. Alina tidur di kasur, sedangkan Gus Birru tidur di atas sofa.

Kehidupan keduanya diselimuti oleh kepura-puraan. Saling diam ketika berdua, tetapi berlagak manis ketika di hadapan orang tua. Keadaan seperti ini berlangsung selama 7 bulan lamanya.

Alina selalu tegar menghadapi kelakuan suaminya itu. Pernah suatu kali ia sudah berdandan rapi, dengan harapan hal itu bisa menarik perhatian suaminya. Nyatanya tidak, Gus Birru menolaknya secara terus terang. Mana ada wanita yang tak sakit hati menerima perlakuan suaminya seperti itu.

Ditambah Alina melihat kontak yang bernama Rengganis menelepon Gus Birru sering kali. Mereka bertelepon. Gus Birru tersenyum sendiri setelah mengangkat telepon darinya.

Hal itu membuat pikiran Alina sangat terusik. Ia seorang istri yang sah diperlakukan bak orang asing di kamarnya sendiri. Sedangkan Gus Birru di luar selalu menghadirkan komunikasi yang asyik bersama teman-temannya, termasuk Rengganis, sosok yang Alina curigai sebagai dambaan hati suaminya. (penggalan cerita dalam buku “Hati Suhita”).

Menulis tentang proses bagaimana beliau (Ning Khilma) menemukan ide serta gagasan yang menggabungkan tradisi dan budaya Indonesia (dalam hal ini wayang), mencerminkan bahwa upaya Ning Khilma dalam melestarikan khasanah budaya melalui literasi. “Hati Suhita” tentu bukan suguhan karya yang biasa, sebab terdapat nilai-nilai spirit keagamaan dengan latar-belakang budaya Jawa yakni dunia per-wayangan.

Saya awali dengan menelusuri jejak-jejak digital Ning Khilma di masa-masa proses kepenulisan. Novel ini berawal dari cerita bersambung yang diunggah oleh penulis Khilma Anis di dinding laman facebook-nya. Setiap postingannya langsung menuai ribuan like dan ratusan coment (komentar). Sebelumnya Ning Khilma sudah menerbitkan dua judul novel, “Jadilah Purnamaku Ning (Matapena, 2006) dan Wigati (Mazaya Media, 2017).”

Secuil alur dalam buku “Hati Suhita”, tokoh Alina Suhita adalah perempuan muda, putra kiai, yang dijodohkan dengan Gus Birru, putra semata wayang Kiai Hanan. Mereka berdua dijodohkan sejak masih sangat muda. Kiai dan Nyai Hanan menaruh banyak harapan pada Alina agar kelak bisa meneruskan perjuangan pondok pesantren dan memberikan keturunan yang baik.

Tetapi sejak awal Gus Birru tak tertarik sama sekali. Apalagi ketika Birru mengenal dan dan menyelami dunia pergerakan, ia bertemu dengan gadis cerdas yang mencintai dunia literasi, ceria, dan senyumnya memikat. Dialah Alina.

Kendatipun demikian, terdapat berbagai sudut pandang dalam novel “Hati Suhita”, antara lain ada tiga sudut pandang tokoh, Alina, Birru dan Rengganis.

Karena sejak awal, penulis (Ning Khilma) memberikan porsi masing-masing dalam karakter tokohnya, setiap tokoh nampak lugas, dan sangat manusiawi dengan pilihannya. Saya mencoba mencermati dan sedikit menggambarkan kembali di waktu moment adegan begini ; “Di depan Alina, Birru tampak angkuh, Rengganis seperti perebut.”

Tapi jika kedua tokoh lain sudah bicara, pembaca akan paham bahwa tak ada tokoh antagonis. Semuanya manusia biasa yang masalahnya berkelindan dengan masalah orang lain. Beratnya, ini masalah hati.

Selain itu, tiap tokoh punya “dunia” dan sumber nilai spirit masing-masing. Alina meski hafal Al-Quran tetapi fokusnya selalu membicarakan tentang kekagumannya terhadap kebudayaan Jawa. Ada susunan pengetahuan tentang manusia dan budaya Indonesia. Sehingga memperjelas cakrawala logika bahwa generasi muda pada dewasa ini, jangan sampai meninggalkan tradisi demi gengsi.

Kemungkinan besar prinsip hidup beliau yang dibesarkan oleh dunia pesantren serta pernah menjadi seorang santri yang sudah terbiasa disuguhkan dengan ajaran-ajaran Islam bernuansa toleransi tinggi di pesantren-pesantren oleh para kiai sehingga tertanam di hatinya sampai hari ini. (15/9)

(Abdul Majid Ramdhani, penulis merupakan lulusan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok)

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close