KeislamanOpini

Tabayyun yang Terabaikan

Hoax merajalela sedangkan kebaikan kebenaran dan berita positif diacuhkan.

Salam. Ki kelana

Apakah hukumnya wajib?

Jika Tabayyun memang sangat dibutuhkan terkait berita fitnah atau hoax maka bs menjadi wajib untuk ditabayunkan sehingga tidak terjadi sebuah perpecahan atau kerusakan.

Namun jika suatu berita yg sudah jelas dan fakta tentang informasi jika memang itu sebuah informasi yang memang negatif namun akurat, maka jangan disebar luaskan jika memang kaitan pada sebuah perkara yg justru lebih banyak kerusakan nya bila disebar maka lebih baik diam dan mendoakan.

Jika memang sebuah informasi yang memang positif dan akurat apalagi berkaitan mengajak untuk ibadah atau motivasi maka wajib disebarkan, dan termasuk ibadah menyampaikan kebaikan melalui Digital Android internet dll, maka setiap jari yg diketikbatau yg membacanya maka bernilai pahala termasuk dakwah Digital.

Fenomena hoax bukanlah sesuatu yang baru melainkan sudah ada sejak zaman awal penciptaan manusia. Iblis membohongi Nabi Adam AS sehingga dirinya diturunkan ke bumi oleh Allah Swt. merupakan hoax pertama yang sering dikisahkan.

Dinamika seperti ini menjadi keharusan untuk menerapkan tabayyun. Jika tidak, akan melahirkan budayaan kebohongan atau hoax karena seluruh aspek kehidupan seperti lini ekonomi dan politik pun tidak lepas dari potensi kebohongan.

Aktualisasi tabayyun di kalangan umat Islam amat rendah, terlebih budaya membaca dan berpikir kritis yang lemah turut memperparah lemahnya kemauan dan kemampuan tabayyun. Sebagaian besar masyarakat Indonesia cenderung memilih menjadi penerima informasi atau berita tanpa melalui penyaringan atau proses tabayyun.

Penyaringan berita atau informasi sangat membutuhkan orang lain sebagai pihak yang dikonfirmasi. Tidak semua pihak bisa dijadikan verifikasi dari berita melainkan harus memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi, sebab tingkat kebenaran tidak bisa ditetapkan berdasarkan banyaknya individu yang mengedarkan informasinya.

Maka, pentingnya menerapkan tabayyun memberikan manfaat bagi kita agar dapat meminimalisir kesalahpahaman, tidak saling menuduh, mencegah permusuhan, dan menciptakan kerukunan antar perbedaan.

Tabayyun berasal dari kata :

تبين-يتبن-تبينا tabayyana-yatabayyanuu-tabayyanan

yang bermakna mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya.

Tabayyun secara sederhana berarti mengklarifikasi sebuah informasi sebelum percaya terhadap informasi tersebut. Hal ini perlu dilakukan sebab ada banyak berita hoax di era digital ini.

Penerimaan ataupun penyampaian berita tanpa tabayyun sebelumnya akan merugikan pihak yang terkait dengan berita itu. Pihak yang diberitakan bisa saja menjadi tercemar nama baiknya atau terfitnah atas berita hoax yang disampaikan.

Al-Quran secara eksplisit memerintahkan hamba-Nya untuk cerdas dalam memahami dan merespons berita. Perintah tabayyun ini tertuang dalam surah Al-Hujurat ayat 6.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ جَآءَكُمۡ فَاسِقٌ ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوۡۤا اَنۡ تُصِيۡبُوۡا قَوۡمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصۡبِحُوۡا عَلٰى مَا فَعَلۡتُمۡ نٰدِمِيۡ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat 49:6).

Orang fasik adalah orang yang berbuat durhaka, melanggar janji, serta keluar dari jalan hidayah, rahmat, dan ampunan-Nya.

Penyebab turunnya ayat di atas adalah ketika Rasulullah saw. mengajak seseorang yang bernama Al Harits untuk masuk Islam. Al Harits pun menyatakan diri masuk Islam dan pulang kepada kaumnya untuk mengajak mereka masuk agama Islam.

Pada saat itu juga, Rasulullah saw. mengajak untuk menunaikan zakat yang disepakati oleh Al Harits. Ketika waktu telah tiba, Rasulullah saw. mengutus seseorang bernama Al Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat yang telah di janjikan.

Namun, di dalam perjalanan hati Al Walid bin Uqban menjadi gentar dan kembali ke Rasulullah saw. tanpa menemui Al Harits. Ketika kembali, ia mengarang cerita bahwa Al Harits tidak mau menyerahkan zakat dan mengancam membunuhnya.

Mendengar cerita tersebut, Rasulullah saw. mengutus utusannya untuk datang kepada Al Harits. Namun ternyata utusan itu bertemu Al Harits ditengah-tengah perjalanan yang sedang menuju ke tempat Rasul dengan membawa zakat yang telah di janjikan.

Setelah bertemu Rasulullah Al Harits menceritakan yang sebenarnya. Kemudian turunlah QS Al Hujurat ayat 6.

sebagai sebuah peringatan bagi umat muslim agar selalu bertabayyun dalam menghadapi informasi yang terdengar oleh telinga kita.

Tata cara bertabayyun atau tabayun, yaitu:

Mengembalikan permasalahan kepada Allah Swt., Rasul dan orang yang pandai.

Bertanya atau berdiskusi dengan orang yang menjadi objek dalam masalah tersebut.

Memusatkan perhatian dengan baik, merujuk kembali permasalahan jika ternyata belum jelas.

Mengambil pengalaman dan perhatian selama menjalin kehidupan dan pergaulan.

Mempertemukan dua pihak yang bertikai bila menghukum dan mengadili.

Mendengarkan secara langsung dari orang yang menjadi objek lebih dari satu kali antara waktu yang lama.

Nah, itulah penjelasan mengenai tabayyun hingga cara bertabayyun yang benar. Semoga bermanfaat.

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close