NasionalSejarah

Syarat Kearifan Lokal, Harlah Istilah NU Rayakan Hari Lahir

Setiap organisasi dalam menjalankan kegiatan memperingati hari lahir mempunyai karakter tersendiri. Begitupun dalam penyebutan hari lahir itu sendiri, ada mengistilahkan dengan senutan Harlah, Ultah atau HUT.

Lalu bagaimana dengan sebutan Hari Lahir Nahdlotul Ulama?. Tentu bagi warga Nahdliyin sudah tidak asing lagi dengan sebutan Harlah, untuk memperingati Hari Lahir organisi NU.

Ya Harlah. Istilah Harlah ini menjadi identitas  NU serta segenap lembaga dan banom turunannya. Begitupula organisasi politik PKB yang notabene berafiliasi dengan NU. Menyebut istilah Harlah, kala merayakan hari lahir.

Bagi penulis, mempunyai pandangan bahwa kata “Harlah”, syarat dengan kearifan lokal. Mengapa, karena jika dilihat dari suku kata, Harlah merupakan Akronim dari kata bahasa Indonesia “Hari Lahir”. Walaupun NU organisasi Islam terbesar di Indonesia, namun tidak alergi dengan istilah-istilah dari serapan bahasa lokal.

Sebutan hari lahir diketahui berbeda dan mengadopsi istilah Asing muncul dari organisasi Islam lain seperti Masyumi, GPI, dan HMI. Organisasi Islam ini menghunakan istilah Milad.

Istilah hari lahir nampak mengadopsi bahasa asing juga terlihat dari organisasi Islam yang didirikn oleh KH Ahmad Dahlan. Ya Muhammadiyah, dan Tentu diikuti oleh turunan organisasi menggunakan istilah Milad.

Sementara itu, berbeda dengan sebutan Hari lahir organisasi politik indonesia lain. Sebut saja PNI, sebuah organisasi politik yang dikomadoi Sukarno menggunakan Istilah Ultah. Hal sama juga dilakukan oleh organisasi politik seperti PDI.

Kembali berbicara Harlah NU. Organisasi yang identik dengan kelompok tradisional ini, tahun 1960 an pernah mengadakan Harlah spektakuler.

Dilansir dari Assalaf,Id meyebutkan, Harlah NU paling meriah sepanjang sejarah, adalah Harlah ke-40 yang diselenggarakan pada 31 Januari 1966 di Gelora Bung Karno. Pada waktu itu harlah dihadiri oleh ratusan ribu warga nahdliyin dari seluruh Indonesia. Hingga kapasitas stadion tidak muat.

Perlu diketahui Ketika pertama kali dibuka pada tahun 1962, stadion ini memiliki kapasitas tempat duduk sebesar 110.000. Bisa dibayangkan kehadiran warga nahdliyin waktu itu.belum lagi para hadirin yang tumpah-ruah di jalanan, tetapi  suasana tetap tertib.

Jika menelisik kekuatan politik dizaman itu, banyak organisasi politik Indonesia yang tidak bisa mengumpulkan kekuatan masa. Pasca peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, namun hebatnya NU bisa.

Boleh dikatakan Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara. Organ politik seperti PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Harlah pada waktu itu diketuai oleh seniman besar H Djamaluddin Malik dan H. Usmar Ismail, sehingga suasana dramatis dan teatrikal tercipta, sehingga melahirkan asa baru di tengah keputusasaan sosial politik akibat tragedi yang dipicu PKI. Saat itulah NU mengusulkan pembubaran PKI sebagai dalang bencana. 

Hanya NU yang masih mampu mengkomando rakyat dan menjaga ketertiban. Sebagai presiden yang lagi goyah, Bung Karno sangat terkesan oleh kekuatan NU dalam menjaga keamanan Negara. Arena ucapan terima kasih disampaikan kepada Rois Aam NU KH Wahab Chasbullah.

Sebagai rasa terimakasihnya itu ketika KH Saifuddin Zuhri minta tanah, maka Bung Karno memberikan tanah seluas delapan hektar di Tomang Slipi yang hendak digunakan sebagai Islamic Centre-nya NU. Dengan kekuatannya itu pula ketika terjadi pergantian rezim, NU tetap terlibat dalam mengelola negara.

Pelaksanaan Harlah NU dengan menggunakan kalender masihiyah dengan tonggak 31 Januari 1926 sekaligus dikukuhkan dalam istilah “Khittah NU 1926” itu telah diijma’i oleh para muassis NU yang masih hidup saat itu, antara lain KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Asnawi Kudus, KH Maksum Lasem dan lain sebagainya.

Karena bagi mereka menjadi NU adalah menjadi Indonesia, maka tidak masalah menggunakan penanggalan yang sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia, dengan tanpa menghilangkan rasa  hormat pada  kalender Hijriyah. Terbukti seluruh peringatan hari besar Islam tetap menggunakan kalender Hijriyah dan kalangan NU lah yang paling aktif dalam menyemarakkan hari-hari besar Islam tersebut.

(KH. Abdul Mun’im DZ / NU Online)

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close