DaerahWarta

Serial Diskusi Gender Gusdurian : Menjadi Asupan Intelektual Bagi Generasi Milenial.

Komunitas Gusdurian sebagai ‘lokomotif’ moderasi dari formalisasi perkembangan sistem digitalisasi pada dewasa ini. Kegiatan diskusi virtual seperti yang diselenggarakan oleh Jaringan Gusdurian dan Gusdurian Ciputat menjadi semacam asupan intelektual bagi generasi milenial di Era Digital, selain dalam menjaga literatur peradaban literasi di masa kini, (Era Digital), kegiatan tersebut memberikan wawasan tentang polemik gender di Indonesia.

Adapun pemateri dalam kegiatan “Serial Diskusi Gender Gusdurian” yang berlangsung pada Hari Sabtu, 06 Agustus dan Hari Minggu, 07 Agustus 2022 yang diadakan melalui aplikasi Zoom Meet, Sabtu, (06/8) dan Minggu, (07/8).

Pemateri di antaranya ; Dr. (H.C) Hj. Shinta Nuriyah, KH. Husein Muhammad (Buya Husein) selaku pendiri Fahmina Institute, Siti Aminah Tardi, Ashilly Achidsti (Penulis Buku, Gender Gus Dur), dan Inaya Wahid (Puteri Gus Dur).

Dalam kesempatan tersebut Buya Husein menekankan bahwa,

“Kehidupan kita sampai dewasa ini, masih tidak atau belum mendorong kita untuk melihat segala sesuatu dengan jujur bahwa perempuan memiliki potensi-potensi besar bagi kehidupan bersama atau kemaslahatan, karena perempuan adalah manusia yang juga memiliki potensi kemampuannya seperti manusia (laki-laki) ; Intelektual (Akal), Mental-Spiritual (Ruh), serta energi tubuh dan lain-lain.” Papar Buya Husein, sewaktu memberikan materi dalam acara Serial Diskusi Gender Gusdurian melalui Zoom Meet, (06/8).

KH Husein Muhammad yang biasa disapa “Buya Husein” telah menawarkan pandangan bahwa dialog konstruktif seperti acara hari ini “Serial Diskusi Gender Gusdurian,” mampu melahirkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebhinekaan dalam polemik gender yang acapkali diperdebatkan oleh para pakar hukum Islam dalam menyikapi fenomena tersebut.

“Adapun kaidah hukum Islam ; Kullu Tasharruf Taqa’ada an’ Maqsud al-Syari’ fa Huwa Bathil.” (Semua tindakan hukum atau kebijakan yang tidak mendukung cita-cita Agama adalah batal.)” Terang Buya Husein lagi, pada Sabtu, (06/8).

Komunitas Gusdurian sebagai gerakan pembangunan pola pikir dari masyarakat nahdliyin (khususnya), kaum milenial dan masyarakat umum yang mayoritas sebagai pengguna aktif medsos, tentu saat ini akan terasa mudah sekali bagi mereka generasi milenial dalam menyerap berbagai informasi melalui internet, dan konten-konten berbasiskan ilmu pengetahuan Agama Islam dengan metode sistem digitalisasi.

Berhasil tidaknya “gerakan” pemikiran Gusdurian ini, tergantung kepada semua pihak termasuk ulama dan umaro.

Umaro sudah sepatutnya bertanggung jawab pada level legislasi, karena kegiatan pengembangan Akhlakul Karimah di ranah sosial media semestinya berimbang dan sesuai kaidah-kaidah etika bersosialisasi di medsos, termasuk juga bagi dunia pendidikan di lingkungan pesantren-pesantren. Karena, pesantren sudah mengakar dalam tradisi masyarakat di Indonesia.

Kegiatan “Serial Diskusi Gender Gusdurian,” yang diselenggarakan oleh Gusdurian dalam beberapa sesi tersebut, yang diadakan sejak tanggal 06 Agustus-07 Agustus 2022 dapat berjalan dengan lancar. Semua materi yang dipaparkan oleh para narasumber dalam acara “Serial Diskusi Gender Gusdurian” menjadi asupan intelektual bagi para peserta yang mengikuti acara tersebut, yang mayoritas adalah kaum milenial.

Jika meminjam kutipan Gus Dur, “Pancasila merefleksikan pesan-pesan utama semua Agama yang dalam islam dikenal sebagai MAQASHID AS-SYARIAH (Kemaslahatan Umum.) (06-07 Agustus 2022),

(Abdul Majid Ramdhani, kontributor).

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close