DaerahOpini

Santri Millenal dan Literasi Digital

Dunia pada dewasa ini tengah memasuki periode perubahan transformatif (transformative change) dan pergeseran besar (megashift) di berbagai aspek.

Santri masa kini tak hanya pintar mengaji, mengkaji kitab-kitab kuning, hafalan nadhom, tapi santri harus mempunyai daya hidup dan kreativitas tinggi agar siap memasuki dunia industri agar lebih kontributif.

Termasuk turut berperan aktif di dunia literasi digital, dengan tetap berorientasi “fastabiqul khairat atau berlomba-lomba untuk kebaikan,” disesuaikan agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Jika menarik sejarah, peran santri di era ‘45. Pada tanggal 22 Oktober 1945 bertempat di Surabaya, K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa mengenai resolusi jihad. Santri di masa itu turun langsung ke medan pertempuran.

Kini- peran santri di era milenial, tentu santri milenial harus mengimbangi diri dengan ilmu agama Islam dan IPTEK demi menopang kemampuan di bidang intelektualnya. Santri milenial harus mampu mengkolaborasikan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum agar bisa bersaing di era digitalisasi.

Melalui strategi modifikasi moderasi dan toleransi, di era kini (digitalisasi) jalan dakwah bagi santri milenial tak lagi sebatas di atas mimbar, dengan adanya medsos sebagai “toa” yang memposisikan ajaran Agama Islam sebagai perekat bukan penyekat bagi seluruh pengguna aktif media sosial.

Dari pola berkomunikasi lokal-global- menjadi digital, dampak positif dari transformasi informasi dan komunikasi ini tentu memudahkan para pengguna aktif media sosial untuk mengakses segala informasi yang tersaji, dengan kata lain media sosial merupakan “Toa”-nya para santri milenial untuk menyebarkan dakwah Islam yang rahmatan lil’alamin melalui platform-platform media sosial.

Berkaitan dengan itu, pada tanggal 17 Juli, Tahun 2022 ini, pondok pesantrenku, (Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok) tengah merayakan perhelatan Harlah Ke- 34 Tahun (1988-2022).

Sikap pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU) sejalan dengan konsep formalisasi penerapan pengajaran atau pembelajaran di era digitalisasi. Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Hamidiyah (Pendiri KH Achmad Sjaichu), turut berbahagia karena pesantren ini tengah bertahan dan tetap konsisten menanamkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, hingga usia Pondok Pesantren Al-Hamidiyah sampai di angka yang ke-34 Tahun (17 Juli 1988-17 Juli 2022).

Tangerang Selatan, 17 Juli 2022. (Abdul Majid Ramdhani, Alumni Pondok Pesantren Al-Hamidiyah).

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close