Lembaga & OtonomNasionalPesantrenTokoh

Perkuat Silaturahim, Nawaning Nusantara Adakan Halaqoh Nasional

Masyarakat Indonesia, khususnya di Tanah Jawa atau pesantren-pesantren di daerah Jawa mengenal tokoh-tokoh dari lingkungan pesantren dengan panggilan ‘Gus’ atau ‘Ning.’ Gus dan Ning itu merupakan sebutan bagi anak keturunan Kiai. ‘Gus’ untuk putra (anak laki-laki) dari Kiai, ‘Ning’ (juga disebut Neng) untuk putri beliau (anak perempuan).

Tidak hanya itu saja, terkadang santri-santri di pesantren-pesantren yang memiliki ilmu dan pemahaman yang lebih mengenai bidang Agama Islam juga kerap menyemat sebutan “Gus” dan “Ning”.

Mengingat pentingnya peran dari para Nawaning dengan mengadakan acara Forum Silaturahmi Nasional Putri Kyai atau Keluarga Pesantren Se-Indonesia.

Halaqoh Nasional Nawaning Nusantara ada secercah harapan terang, bahwasanya silaturahim ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 27 Agustus 2022. Perhelatan Halaqoh Nasional tersebut atas inisiasi para Putri Kyai, dengan forum Nawaning Nusantara.

Sebagaimana diketahui juga bahwa gerakan Bu Nyai Nusantara lebih dulu ada dan berkiprah di masyarakat. Serta menjadi wadah atau pun forum bagi para pengasuh pesantren pondok putri yang dilaunching pada sekitar tahun 2019 silam. Lahirnya forum Bu Nyai Nusantara tersebut diprakarsai oleh Divisi Pengembangan pesantren putri RMI NU Jawa Timur.

“Nawaning Nusantara” merupakan program kerja dari divisi pengembangan pesantren putri RMI Jatim yang dicetuskan ketika rapat kerja RMI lalu dideklarasikan pada tanggal 27 Agustus 2022.” Ungkap, Ning Firda selaku Ketua Pengarah kepada kontributor saat diwawancarai secara online, (28/8).

“Tentunya perkumpulan dari Bu Nyai Nusantara telah menginspirasi kami para Nawaning, kalau Bu Nyai Nusantara terdiri dari beberapa para pengasuh pesantren putri, yang memiliki misi ; Pertama, Li i’lai kalimatillah fii nasyirin waddin menggelorakan mahabbah kita terhadap Nahdlatul Ulama, dan misi kedua yaitu ; ta’aruf (mengenalkan) ahlussunnah wal jamaah.”

“Nawaning Nusantara tentulah memiliki visi-misi sebagaimana organisasi pada umumnya. Visi-misi kami sesuai segmentasinya, hanya saja agak berbeda dengan “Bu Nyai Nusantara”. Kalau perihal Bu Nyai Nusantara sendiri, toh karena saya juga termasuk panitia yang pada saat itu ikut berkontribusi dalam acara tersebut di tahun 2019, dalam acara “Silatnas Bu Nyai Nusantara” dengan mengusung tema besar ; “Meneguhkan Peran dan Eksistensi Bu Nyai dalam Merespon Perkembangan Sosial Keagamaan” Terang Ning Fierda, saat beliau diwawancarai secara online, (28/8).

Adapun latar belakang dengan berdirinya Nawaning Nusantara sendiri ; 1. Al-Ummu Madrasatul Ula; Ibu merupakan madrasah pertama. Ini menunjukkan Bu Nyai memiliki peran sentral dalam membentuk generasi unggulan. Bu Nyai memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dalam berkontribusi bagi pendidikan keluarga dan masyarakat dalam konteks Islam Rahmatan Lil Alamin di Indonesia; 2. An-Nisa’ ‘Immadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad. Bu Nyai merupakan pembina moral, dakwah, dan pendidikan Islam di keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan karakter dan yang dimilikinya, Bu Nyai memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan baik internal maupun eksternal.” Pukas Ning Fierda selaku Ketua SC (Pengarah) Nawaning Nusantara.

Kendatipun demikian Nawaning Nusantara dan Bu Nyai yang berpijak pada esensi madrasatul ula, memiliki peran sebagai pusat pengkaderan intelektual muslim (center of excellence), pencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif (human resources), kemampuan untuk melakukan pemberdayaan pada masyarakat (agent of development), pemilik kekuatan dalam melakukan proses perubahan sosial (social change), dan Bu Nyai memiliki peran kunci sebagai motivator, inovator, dan dinamisator keluarga dan masyarakat. Tentu peranan ini “dimainkan’ dengan baik oleh Bu Nyai, sehingga keberadaan dan kehadirannya dalam ekosistem perubahan zaman dan pemberdayaan masyarakat menjadi semakin dibutuhkan.” Tegas Ning Fierda, 28 Agustus 2022.

Berkaitan dengan spirit ghirah (semangat) mahabbah yang ditularkan oleh forum Bu Nyai Nusantara, dengan atas dasar itulah kami Nawaning Nusantara mengadakan acara “Halaqoh Nasional” dengan mengusung tema besar “Merajut Silaturahmi Menguatkan Dakwah Kreatif Perempuan Pesantren Nusantara,” ini oleh Nawaning Nusantara.

Kegiatan Halaqoh Nasional Nawaning Nusantara diadakan pada 27 Agustus 2022 bertempat di Surabaya, Jawa Timur. Acara berjalan sejak pukul 07.00 s.d 15.00 WIB.

Bapak Eri Cahyadi, S.T., M.T, Walikota Surabaya pun mensupport kegiatan tersebut dengan memberikan fasilitas berupa mengajak para peserta Nawaning Nusantara untuk berwisata ke beberapa tempat wisata di wilayah Surabaya, Jawa Timur, (27/8).

Nawaning Nusantara itu sendiri berdiri sejak “Nawaning Nusantara” diresmikan dan dideklarasikan pada tanggal 27 Agustus 2022, bertepatan dengan acara “Halaqoh Nasional Nawaning Nusantara” yang berlangsung di Hotel Grand Mercure, Kota Surabaya, (27/8).

Dengan mengadakan acara “Halaqah Nasional” tentu menjadi langkah konkret Nawaning Nusantara dalam merawat khazanah tradisi budaya para santri di pesantren-pesantren yang ada di Nusantara ini.

Perwujudan sikap dari Nawaning Nusantara yang mencerminkan karakteristik khas dari orang-orang pesantren, dengan mengembangkan potensi lokal dari para santri maupun santriwati yang semoga dapat menumbuhkan arah baru dari ghirah perjuangan dari para perempuan NU (Nahdlatul Ulama) dalam wadah Nawaning Nusantara yang mengglobal di mata dunia.

Nawaning Nusantara melihat hal itu sebagai kelebihan. Dalam hal ini para Nawaning (Ning), yang memang notabene-nya adalah kelompok sanak-keluarga dari para Kyai dan Bu Nyai di pesantren-pesantren. Maka program program yang akan menjadi embrio dari progres forum “Nawaning Nusantara” serta kiprah mereka yang terjun ke lapisan masyarakat akan semakin terang benderang, dan dengan terselenggaranya acara Halaqoh Nasional, 27 Agustus 2022.

Gerbong-gerbong emansipasi wanita di kalangan pesantren mengalami stagnasi, adanya Nawaning Nusantara sebagai solutif, tawaran baru yang digelorakan pada tatanan dunia baru Era-“Bu Nyai-Bu Nyai Muda” di zaman transformasi media. Ada geliat pembaharuan dari para Nawaning Nusantara yang masuk ke dalam ruang publik dan ruang-ruang digital.

Halaqoh Nasional, Nawaning Nusantara Tahun 2022, menjadi kebangkitan bagi orang-orang Pesantren di era trend sistem pengelolaan pengajaran, pembelajaran, dakwah yang serba berbasis digitalisasi.

Dinamika frekuensi pemikiran “Bu Nyai-Bu Nyai Muda” ini dengan”brand” forum bernama Nawaning Nusantara, patut disambut gembira. Para perempuan santri generasi muda, sekaligus Putri Kyai pada dewasa ini telah menyadari bahwa pendidikan adalah kegiatan memberdayakan kemampuan di bidang keilmuan masing-masing.

Tanpa dipungkiri betapa peran Bu Nyai-Bu Nyai, (para pendahulunya) dan Putri-Putri Kyai dalam berpartisipasi di panggung-panggung pendidikan apapun.

Transformasi pendidikan agama Islam telah merubah ekosistem berpikir keagamaan yang dinamis, mudah beradaptasi, berinteraksi, serta berperilaku dengan spirit nilai ilmu-ilmu kepesantrenan (akhlakul karimah), dan mampu mengaktualisasikan bakat dan minat di tempat yang tepat, serta mendapatkan dukungan penuh dari orang-orang terdekat (keluarga). Namun tetap berada dalam bingkai budaya tradisi sosialisasi pesantren.

“Sejarah mencatat, keluarga para pemuka agama memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat Jawa. Seperti panggilan untuk istri Kyai dengan (Bu Nyai,) dan Putri Kyai (Ning) di depan namanya. Orang-orang pesantren mengharapkan adanya percikan keberkahan dari tata krama tersebut kepada keluarga pemuka agama.”

Kendati demikian, zaman telah berkembang sesuai tuntutan dan tantangan. Tradisi sosialisasi pesantren yang mengacu pada syariat agama sebagai titik sentral dalam prinsip kehidupan mereka. Baik dari Bu Nyai, Putri Kyai, dan Santriwati agar lebih kontributif dan memberikan kesegaran gagasan, dengan memperkaya perspektif mengenai kehidupan dunia dan agama.

Nawaning itu bukan semata istilah “Putri Kyai” di pesantren saja, ada satu amanah tersendiri disana yang harus dijaga dan ada pula sederet tata krama menjadi contoh bagi santrinya. Ning, pengemban ilmu dari garis keturunan. Selain itu memiliki tuntutan tugas yang jauh lebih besar.

Dengan adanya “Halaqoh Nasional” tradisi silaturahim yang telah melekat dalam diri masyarakat pesantren telah dilestarikan kembali melalui produk-produk acara yang inovatif seperti yang dipersembahkan oleh “Nawaning Nusantara.”

Sehingga eksistensi dari “Bu Nyai-Bu Nyai Muda” atau “Ning” di masa kini tidak terlindas zaman. Kebutuhan zaman menuntut mereka (Ning) untuk semakin mengembangkan daya kreativitas serta berkarya melalui kegiatan “Halaqoh Nasional,” pada hari Sabtu, 27 Agustus 2022. Sebuah kegiatan edukatif dengan memberdayakan para perempuan di era digitalisasi pada dewasa ini dengan memadukan kemampuan Ilmu Agama (pesantren) dan pengetahuan umum.

Dengan inisiasi dari para Ning, yang menambahkan istilah komunitas mereka dengan kata “Nawaning” Nusantara menjadi penanda bahwa mereka (para Ning) tidak melupakan fitrah-nya sebagai seorang perempuan. (28/8),

(Abdul Majid Ramdhani, Pewarta).

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close