DaerahLembaga & Otonom

Pergunu adakan Road Show ke Pesantren Al-Kindi, Bekali Pelajar dengan Literasi Digital

Cipayung Depok – Pengurus cabangPersatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Kota Depok kembali menyelenggarakan road show di pondok pesantren Al-Kindi, pimpinan KH Abdul Ghani Djamal, yang berlokasi di Cipayung Jaya Kecamatan Cipayung Kota Depok, Sabtu, (29/01/2022) lalu.

Kali ini pelatihan menyasar santri tingkat SMA.‎ Tak kurang dari 40 peserta dari pondok pesantren Al-Kindi dan juga beberapa siswa SMA/sederajat dari beberapa sekolah di kota Depok tersebut antusias mengikuti pelatihan jurnalistik keberagaman.

Ketua Panitia Kegiatan, Tedi Kresna mengatakan acara itu diselenggarakan sebagai langkah Pergunu Kota Depok ‎dalam menyikapi perkembangan era digital yang cukup pesat.‎

‎“Tidak bisa dipungkiri di era digital dan kemudahan informasi seperti saat ini, arus digital semakin pesat, oleh karena itu Pergunu Kota Depok bersama dengan komunitas Peace Leader Depok dan Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) menjadi sarana menyebarkan dakwah digital yang rahmatan lil alamin,” jelasnya.

Ia mengajak para santri dan pelajar SMA menekuni dunia jurnalistik sebagai jalan perjuangan atau jihad melalui media NU.‎

Kegiatan menghadirkan tiga narasumber kompeten, yakni ketua Pergunu kota Depok Ustad Acep Pudoli, ‎pengurus LTNNU Kota Depok Abdul Hakim yang juga kordinator Peace Leader Jawa Barat, dan Dosen sekolah kader Aswaja kampus STKIP Padhaku cabang Kota Depok, Heru Hermanto.

Abdul Hakim, menyampaikan materi Jurnalistik keberagaman, dan sharing pengalaman para pelajar terkait pentingnya para pelajar/santri menguasai media sosial.

“Kita akan di kuasai, atau kita menguasai” ujar Hakim kepada para santri, sembari memberikan arahan terkait pentingnya peran pelajar dan santri dalam menguasai media sosial.

Tambah Hakim, “saat ini arus informasi begitu massive tak terkendali, belum lama ini, terkuak sebuah peristiwa pelecehan seksual oleh oknum di sebuah tempat pendidikan, sangat miris sekali, sebab. Informasi yang bereda di media, menjadi tendensius, atas nama lembaga pendidikan dan pesantren. Maraknya masyarakat mencibir bahwa, pondok pesantren menjadi tempat tidak aman bagi para pelajar dan santri”.

Oleh karena itu, tambah Hakim. Kita sebagai santri harus bisa merubah situasi, buatlah narasi-narasi terkait peran lembaga pendidikan, khususnya pesantren menjadi sebuah tempat yang memang semestinya adalah tempat yang paling aman untuk belajar menuntut ilmu.

Ia juga mengajak peserta menjadi bagian aktif dalam membantu pencegahan kekerasan pelajar maupun kekerasan seksual yang ada di lingkungan sekolah masing-masing.

Kegiatan itu dirangkai dengan diskusi perkelompok, merancang peliputan kegiatan yang ada di sekolah maupun di luar sekolah.

Para pelajar yang hadir pun dibekali pemahaman terkait literasi digital, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi dan paham tentang aplikasi yang ada di media sosial.

“Para pelajar dibekali materi tentang literasi digital, untuk memberikan pencerahan dan pemahaman agar bisa memanfaatkan media sosial menjadi salah satu bagian dari dinamika sosial yang harus dimanfaatkan untuk peliputan. Zahra Fitriyah salah satu pengisi acara dari Sekolah Kader Aswaja.

Acara yang berlangsung cukup singkat itu, pembekalan materi dari tiga narasumber, dengan suasana cukup interaktif, didukung oleh she Build Peace id, she Builds Peace stand with women peacbuilders dan Asian Muslim Action Network AMAN Indonesia.

Kontributor: Zahra
Editor: Hakim Hasan

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close