KhazanahOpini

Pemimpin NU Seperti Apa yang Kita Cari?

Abdul Ghofur, nahdliyin garis miring

Dalam konstelasi peradaban, ada saat-saat ketika pilihan menjadi seruan bagi perubahan. Konferensi PCNU Kota Depok adalah salah satu momen itu. Di tengah gemuruh dukung-mendukung dan gemerincing perdebatan, kita dihadapkan pada satu pertanyaan penting: “Pemimpin NU seperti apa yang kita cari di Depok?”. Pertanyaan sederhana, tapi tak banyak orang yang reflektif.

Di negeri yang terkadang lebih memilih polesan ketimbang substansi, menemukan pemimpin yang sejati bukan perkara mudah. Kita tak butuh pemimpin yang pandai beretorika kosong seperti dalam sinetron kejar tayang. Kita butuh seseorang yang bisa melihat jauh melampaui horizon, yang bisa merangkul masa lalu, memahami masa kini, dan merencanakan masa depan dengan bijak.

Kenyataannya, ada realitas yang menuntut. Kota Depok, dengan segala dinamikanya, bukanlah tempat yang mudah dijinakkan. Ia adalah mozaik dari berbagai kepentingan, aspirasi, dan tantangan. Maka, pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi pelukis yang mahir, mencampur berbagai warna dengan harmoni yang sempurna. Ia harus memahami denyut nadi masyarakat, mendengar keluhan dan harapan dengan hati yang terbuka, dan merespons dengan tindakan yang bijak dan tepat.

Saat kita bicara tentang sosok pemimipin, bukan hanya seorang pemimpin administratif yang kita maksud, melainkan sosok yang mampu menjadi oase di tengah gurun. Ia harus seperti pohon beringin yang rindang, meneduhkan setiap jiwa yang berteduh di bawahnya, memberikan ketenangan di tengah panasnya sengketa. Pemimpin ini harus memiliki sifat amanah seperti Bilal bin Rabah, keberanian seperti Ali bin Abi Thalib, dan kebijaksanaan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mengapa harus demikian? Karena NU bukanlah sekadar organisasi, tetapi rumah bagi banyak orang, tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman bertemu dalam harmoni yang indah. Di tengah gempuran zaman, kita butuh pemimpin yang bukan hanya bisa melihat ke depan, tetapi juga mampu memaknai masa lalu dengan bijak. Pemimpin yang sadar bahwa NU adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa ini, yang tidak hanya lahir dari rahim sejarah, tetapi juga mengukir sejarah itu sendiri.

Kita dahaga akan pemimpin yang memiliki hati sekuat baja namun lembut seperti sutra. Ia adalah seorang yang mampu mendengar keluhan dengan penuh empati, namun tak gentar berdiri di garis depan ketika harus membela kebenaran. Seperti para pendahulu kita, KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, yang tidak hanya berbicara tentang agama, tetapi juga tentang kemanusiaan dan keadilan. Pemimpin ini harus berani berkata tidak pada ketidakadilan, meski itu berarti berdiri sendiri di tengah keramaian.

Namun, di tengah pencarian ini, kita juga dihadapkan pada realitas yang terkadang menyakitkan. Betapa sering kita melihat kursi pemimpin menjadi rebutan, bukan untuk mengabdi, tetapi untuk kepentingan pribadi. Laksana pepatah, “Siapa yang tidak kenal kekuasaan, akan tergoda oleh manisnya.” Ini adalah ironi yang harus kita hadapi, bahwa di balik janji-janji mulia, sering tersembunyi ambisi yang menggelapkan hati.

Maka, kita harus bijak dalam memilih. Mari kita belajar dari sejarah, dari kisah-kisah para pemimpin besar yang telah dilahirkan bangsa ini. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kata-katanya, tetapi dari tindakan nyata yang ia lakukan. Seperti padi yang merunduk, semakin berisi semakin rendah hati. Pemimpin yang kita cari haruslah orang yang mengutamakan kepentingan umat di atas segalanya, yang tidak silau oleh gemerlap kekuasaan, tetapi justru merendah untuk melayani.

Hari ini, kita butuh pemimpin yang memiliki visi. Visi yang bukan hanya berorientasi pada jangka pendek, tetapi jauh ke depan. Ia harus seperti pelaut yang pandai membaca bintang di langit malam, tahu arah yang harus dituju meski badai menghadang. Pemimpin yang memiliki visi akan membawa NU ini tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia harus bisa menciptakan program-program yang inovatif, menggerakkan roda organisasi dengan semangat gotong royong, dan membangun sinergi yang harmonis dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang selama ini banyak terabai.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada inti dari pencarian ini. Pemimpin yang kita cari haruslah seseorang yang mencintai NU dengan sepenuh hati, yang mengerti bahwa menjadi pemimpin adalah soal pengabdian, bukan kekuasaan. Ia harus seperti lilin yang rela terbakar untuk menerangi sekitarnya, memberikan cahaya harapan di tengah kegelapan.*

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close