DaerahLembaga & Otonom

Menjadi Pribadi Disiplin Setelah Gabung di Pagar Nusa

Peryataan tersebut disampaikan oleh Ineza Sativa kader Pagar Nusa sekaligus menjadi Asisten Pelatih kategori Anak di Padepokan Tirtajaya.

“Terutama kedisiplinan hal ibadah, saya lebih disiplin sekarang. Saya merasakan, kini terbiasa bagun pagi dan Ibadah tepat waktu,”Akui Inez di sela-sela latihan Pagar Nusa Kategori Dewasa, Sabtu, 11 September 2021.

Lebih lanjut Inez sampaikan, Ia bangga dengan pilihan organisasi yang identik dengan adu fisik tersebut. Bahkan Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan menarik selama belajar bela diri di PN. Inez pun juga mendapatkan dukungan dari teman dekat dengan bukti memberi komentar positif tentang PN.

“Iya banyak mendapatkan pengetahuan lain, apa itu PN, arti berorganisasi, membentuk karakter pribadi. Berani membela diri, saya rasakan banget. ,” cerita Perempuan kelas 11 di SMA Bintara, Pancoran mas ini.

Inez mengaku, tidak menyesal atas pilihan hobi barunya. Terlebih Ia pada dasarnya suka berbagi ilmu yang didapat kepada siapapun. Tidak terkecuali kepada anak-anak.

“Berbagi ilmu, merupakan impian besarku. Mungkin menjadi pelatih PN saya bisa berekpresi menularkan ke masyarakat. Terutama mengajarkan ke anak,” akui perempuan berkacamata ini.

Pengalaman pertama belajar silat, lanjut cerita Inez, awal latihan Ia tidak mikir apa-apa, dan bagaimana proses pembelajaran di PN. Yang jelas sudah tahu konsekuensinya.

“Banting fisik pasti, menguras tenaga, gampang capek. Akan tetapi semakin kesini saya menikmati,” imbuhnya.

Mengomentari keaktifan Inez, Asisten Pelatih Dewasa silat Pagar Nusa Padepokan Tirtajaya, Agus Hidayatullah memberikan penilaian khusus kepadanya.

“Dia disiplin sejak awal bergabung. Pun aktif ikut menggerakan organisasi agar Padepokan Tirtajaya tetap aktif,” komentar positif Agus.

Berbicara tantangan melatih pendekar PN di Padepokan Tirtajaya, Agus pun juga menceritkaan pengalaman sama seperti dialami oleh pelatih lain.

“Khusus melatih anak usia dini kadang buat stres, tapi menghibur. Kalau kelas dewasa lancar saja,” tutupnya

Lebih lanjut Ia menceritakan, pengalaman konyol sekaligus lucu saat memberi materi dasar PN dihadapan peserta didik kategori.

“Pada waktu itu saat latihan ada ondel-ondel lewat, tidak butuh waktu lama konsentrasi latihan bubar dan beralih ke arahan yang lebih menarik, ondel-ondel. Untung saya dibantu Inez, asisten pelatih anak-anak,” ceritanya.

Bagi Agus, kerjadian saat melatih, merupakan bagian dari warna perjuangan dakwah Aswaja Annahdliyah melalui seni pencak silat.

“Saat itu tim langsung memutar otak, gimana caranya mengkondisikan anak usia pelajar tingkat TK dan SD. Kamipun menemukan solusi yakni harua bersikap seperti guru TK,” ungkapnya.

Pertama kali yang dilakukan harus, lanjut Agus, masuk ke dunia mereka. Bahwa metode pendidikan anak pembawaanya harus senang.

“Strateginya, kita mulai menayakan kesenangan peserta didik apa. Jika main bola kita biarin dulu mereka bermain. Pun PN perempuan suka boneka suruh bawa. Dirasa puas bermain, baru diarahkah latihan silat,” kata Agus.

Ada proses evaluasi, Lanjut Agus, pengurus Padepokan Silat selalu berkomunikasi dua arah berama orang tua. Agus selaku asisten pelatih menekankan ke orang tua, bahwa pelatihan tidak hanya di lapangan akan tetapi dirumah juga diingetin tentang kedisiplinan.

“Alhamdulillah, orang tua senng kami ajak komuniasi, dan kita saling memberian perkembangan kedisiplinan peserta didik,” pungkasnya.

Kontributor: Sodiqul

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close