DaerahPesantrenTokoh

Meneladani Kearifan Kepemimpinan Kiai di Era Digitalisasi Melalui Dakwah bit-Tadwin

Berbicara mengenai peradaban Islam tentu merupakan sebuah topik yang menarik dalam khazanah pemikiran Islam, apalagi dalam lingkup nasional maupun internasional. Termasuk perkembangan dunia pesantren pada dewasa ini, sebagaimana bulan Oktober menjadi bulan istimewa bagi seluruh santri di Nusantara, karena di bulan tersebut ada peristiwa penting, setiap jatuh tanggal 22 Oktober , tanggal yang telah dinobatkan oleh pemerintah sebagai “Hari Santri Nasional.”

Dalam perkembangannya, semakin maju teknologinya, maka dunia pesantren semakin menjadi modern. Banyak kita lihat fenomena diluar sana, termasuk di media sosial yang mengatasnamakan tindakan tidak terpujinya itu di bawah naungan Islam (Pondok Pesantren). Perilaku yang justru merusak citra Islam itu sendiri dimata orang lain atau publik.

Selain aspek pengajaran Islam di Pondok Pesantren yang telah memiliki nilai-nilai khazanah Islam warisan yang luar biasa, tentu ada pula aspek-aspek lainnya yang harus diperhatikan.

Aspek-aspek kapasitas di Pondok Pesantren yang diperhatikan oleh seorang pimpinan antara lain ; kapasitas personal, profesional, dan institusional.

Kapasitas institusional misalnya, berkaitan langsung dengan penciptaan kultur-kultur dan struktur-struktur yang ada di lingkungan tempat pendidikan (Pondok Pesantren).

Setidak-tidaknya penulis menyoroti peran utama dari seorang pimpinan di Pondok Pesantren yang menggambarkan sebagai orang yang pandai bertukar pengetahuan dan informasi di antara pimpinan pesantren-pesantren lain dan mampu mengembangkan kapasitas personal maupun profesional.

Adapun seorang pimpinan pesantren, (Kiai) dapat mengembangkan visi dan menyesuaikan visi pihak lain. Juga berharap agar performa staf-stafnya dapat meningkat pesat. Secara ringkas pimpinan Pondok Pesantren mampu membangun visi sekolah, ia (pimpinan) mengkonseptualisasikannya dengan konsep-konsep dari staf pengajar yang lain.

Serta mampu mengartikulasikan visi menjadi pernyataan misi. Misi adalah bagian dari tugas pemimpin dalam menerjemahkan visi menjadi nyata. Berprasangka baik terhadap cita-cita perlu disebarluaskan, inilah konsep berpikir di era digital yang menjadikan cita-cita mulia dan tidak hanya menjadi wacana semata.

Kendati demikian, seorang pimpinan di Pondok Pesantren biasanya memiliki ciri yang khas, sebagaimana saya dulu pernah mengalami langsung dampak dari kearifan seorang Kiai (pimpinan, atau pengasuh) dengan menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok pada lima belas tahun silam.

Seorang pimpinan, pengasuh, atau kiai di pesantren-pesantren identik dengan hal ini;

Tidak meremehkan bakat para santri.
Mengembangkan aspek rohani dan jasmani melalui tradisi kebudayaan.
Mengukuhkan mental para santri demi menjaga rasa tanggungjawab sebagai anggota masyarakat jika telah menjadi alumni.

Dengan peralihan zaman yang berubah cepat dari era global ke digital. Maka peran media sosial sangat penting bagi Humas di pesantren-pesantren dalam menjalankan tugasnya atau segala sesuatunya yang berkaitan dengan mempromosikan ajaran Islam rahmatan lil alamin, merawat toleransi, menolak keras diskriminasi di kalangan santri dalam bentuk verbal maupun non verbal, melalui konten-konten yang mengedukasi masyarakat di ranah media sosial.

Ada semacam urgensi keberkahan bagi semua santri di seluruh negeri untuk segera “Meneladani Kearifan Kepemimpinan Kiai di Era Digitalisasi.” (dalam hal ini ; para Kiai pesantren) yang turut serta menyumbangkan nasihat-nasihat melalui “mimbar” platform-platform media sosial yang sudah ada. Sehingga mereka (santri) lebih termotivasi untuk berani berperan dan bukan baperan.

Pada dewasa ini, di negeri modern seperti sekarang, “penggalangan” kekerasan kian menjadi sumbangsih terbesar di dalam ranah media sosial juga di wilayah pesantren. Sehingga hal tersebut dapat memicu konflik kerukunan atas kedaulatan yang selama ini dipertahankan mati-matian sejak dahulu oleh para ulama-ulama Nusantara dan juga tokoh-tokoh nasional lainnya.

Keterlibatan para santri dalam berpartisipasi di masyarakat sangat memberikan arti dengan terobosan dan ide-ide baru, dengan meneladani kearifan Kiai-Kiai di era digitalisasi yang juga “melek” teknologi dan berperan nyata dalam menyebarkan dakwah di sosial media bersama para santri, maka pesantren-pesantren akan menopang demokrasi dan menyalurkan aspirasi kaum santri di berbagai ranah publik.

Dengan tetap konsisten memposting konten-konten bernafaskan Islam yang ramah, di ranah media sosial dan memiliki spirit ghirah dakwah dari nilai-nilai tradisi Islam tradisional khas pesantren.

Kemajemukan agama di Indonesia, Al-Qur’an telah menggariskan, dakwah yang ideal itu dengan menggunakan hikmah kebijaksanaan dan kearifan atau (dakwah “ma’ruf bil ma’ruf”) termasuk dengan ilmu pengetahuan, dengan pendekatan kemanusiaan itu sendiri. Karena dakwah itu untuk manusia. Jadi, dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak pada kebaikan.

Dengan adanya media sosial, para santri bisa menerapkan pola dakwah bit-Tadwin, (sebuah metode dakwah yang dilakukan melalui tulisan), dakwah melalui tulisan ini, baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, tulisan di internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah.

Hal-hal produktif tersebut tentu patut dilestarikan serta dikembangkan lagi, agar jargon dari Pesantren Al-Hamidiyah, Depok dengan istilah “Santri KITAB” yang merupakan singkatan dari (Komunikatif, Inovatif, Terbuka, Argumentatif, dan Berintegritas) dapat terwujud secara konkrit.

Dalam hemat saya jargon tersebut mengandung kaidah-kaidah berikut ; al-musawah (kesejajaran atau kesetaraan). at-tasamuh (toleran serta menghargai perbedaan suku, budaya, dan agama). al-huriyah (kemerdekaan dan kebebasan berekspresi) dan Ta’awun (solidaritas), yang menjadi keharusan bagi setiap santri Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Hari Jumat, (23/9).

(Abdul Majid Ramdhani, penulis merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok dan aktif menulis di NU Online.)

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close