AswajaKeislaman

Kriteria Memilih Guru

Oleh: Ustadz Aenal Yaqin

Tanggal 25 November 2020 mendatang, kita semua memeringati hari guru. Kita semua berjasa kepada guru. Di era media sosial saat ini, ceramah-ceramah seantero dunia bisa kita ketahui melalui media sosial. Di antaranya Youtobe. Namun bagaimana cara kita menentukan guru yang bisa kita ikuti dan teladani.
Menurut Imam Az Zarnuji, kriteria memilih guru sebagai berikut:

Pertama, orang yang lebih alim, waro’ (hati-hati) dan lebih tua usianya.

أما اختيار الأستاذ: فينبغى أن يختارالأعلم والأورع والأسن، كما اختار أبو حنيفة، رحم الله عليه، حماد بن سليمان، بعد التأمل والتفكير.

Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro’ dan juga lebih tua usianya. Sebagaimana Abu Hanifah menentukan pilihannya kepada Hammad Bin Abu Sulaiman setelah lebih dahulu memikir dan mempertimbangkan lebih lanjut.

Tentunya, guru yg akan kita jadikan panutan bukan hanya pintar. Tapi harus memiliki sifat Wara’. Adapun wara’ adalah menghindari dari perbuatan haram. Bagi para pencari ilmu, inilah qaul ulama yang menjdi kriteria ungkapan “fii ikhtiyyari al Usatdz. Sehinga kita terhindar dari orang yg salah memahami agama.

Imam junaid Al Baghdadi menerangkan tentang wara’

الورع في الكلام أفضل منه في المال

“Wara’ dalam ucapan lebih utama daripada wara’ dalam urusan harta”.
Berdasarkan kamus daring Al-Maany, wara’ dalam istilah fiqhiyah memiliki makna:

ترك المعاصي والابتعاد عن الشبهات خوف الوقوع في الحرام

“meninggalkan maksiat dan menjauhkan diri dari syubhat karena takut terjatuh dalam haram”.

Rosululloh SAW bersabda :

فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع

“Keutamaan ilmu itu lebih baik dari keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’’ (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath, Al Bazzar dengan sanad yang hasan.
 
Kedua, bukan orang yang cinta dunia, menuruti hawa nafsu, menganiaya muslim lainnya.

وحكي عن بعض علماء بنى إسرائيل أنه جمع سبعين صندوقا من العلم فأوحى الله نبيا ذلك الزمان : أن قل للعالم: لاتنفعك هذه العلوم وان جمعت مثلها أضعافا مضاعفة ما دمت متصفا بثلاث خصال : حب الدنيا, ومساعدة النفس والشيطان على ما تهوى, وإذاية مسلم

“Dikisahkan, ada seorang ulama’ dari kalangan Bani Israil mengoleksi berbagai kitab dari banyak disiplin ilmu hingga berjumlah 70 peti.Lantas Allah memberikan wahyu kepada seorang Nabi pada zaman tersebut, agar  disampaikan kepada seorang ulama’ tersebut:

“Tidak akan ada artinya berbagai ilmumu, walaupun kau lipat gandakan koleksi kitabmu dari jumlah kitab yang engkau miliki sekarang, selagi engkau masih memendam tiga sifat ini, yakni: dirimu masih cinta dunia, bersekongkol dengan nafsu dan syetan untuk menuruti hawa angkaramu, dan masih menganiaya satu orang muslim saja.
 
Referensi: Ta’limul Muta’allim, Al Manhaj As Shawi.
Penulis adalah pengasuh pesantren dan panti asuhan Tubagus Pangeling, Tapos, Depok.

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close