DaerahLembaga & OtonomTokoh

Konferensi PCNU Kota Depok: Maslahah Apa yang Sudah Kita Hasilkan?

Abdul Ghofur, nahdiliyin garis miring

Dalam mendung sore yang meringkuk di Kota Depok, Konferensi PCNU mungkin berdiri sebagai mercusuar harapan, menyulut obor semangat di hati para hadirin esok. Namun, saat riuh sorak-sorai meredup dan kata-kata bijak para kyai lenyap di udara, pertanyaan menggantung di benak kita: “Maslahah apa yang sudah kita hasilkan?”

Mari kita mulai dengan sebuah alegori sederhana. Bayangkan kita semua adalah penenun. Setiap benang adalah niat, setiap jalinan adalah tindakan. Konferensi PCNU adalah sebuah alat tenun segede gaban, mengumpulkan kita dalam tugas mulia menciptakan kain kehidupan yang lebih baik. Tapi, kain apa yang telah kita ciptakan? Apakah hanya potongan-potongan acak yang tak berarti, atau sebuah karya agung yang bisa kita banggakan?

Maslahah, dalam makna terdalamnya, adalah upaya menciptakan kebaikan umum, membangun kesejahteraan bersama. NU sebagai organisasi yang berdasar pada prinsip-prinsip Islam, memiliki tanggung jawab besar untuk menenun benang-benang ini menjadi kain kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, mari kita tanyakan diri kita sendiri dengan jujur: apakah kita benar-benar telah melakukannya?

Jika kita melihat ke belakang, kita akan menemukan banyak pidato menggelegar, janji-janji luhur, dan semangat yang berkobar. Tapi apakah ini cukup? Pidato bisa menggerakkan hati, janji bisa menenangkan jiwa, tapi tanpa aksi nyata, semuanya hanya akan menjadi angin berlalu. Dalam alQuran, kita diajarkan bahwa iman tanpa amal adalah sia-sia. Maka, mari kita tengok amal kita, mari kita ukur maslahah yang telah kita ciptakan.

Sejauh ini, kita mungkin telah berhasil dalam beberapa aspek. Program pendidikan yang digalakkan, misalnya, telah membuka mata banyak anak-anak yang sebelumnya terbelenggu kebodohan. Namun, apakah ini cukup? Pendidikan adalah benang emas, tapi tanpa mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan keberanian untuk berdiri melawan ketidakadilan, ia hanyalah benang yang berkilau tanpa kekuatan.

Di sektor ekonomi, kita mungkin telah melihat beberapa upaya pemberdayaan ekonomi umat. Tetapi, apakah kita telah benar-benar mengangkat derajat mereka yang paling membutuhkan? Apakah program kita telah menjangkau akar rumput, atau hanya menghiasi lapisan permukaan? Masalah kemiskinan dan ketimpangan ekonomi adalah jaring yang rumit. Tidak cukup hanya dengan menggelar bazar murah atau pelatihan kewirausahaan. Kita perlu strategi yang mendalam, kebijakan yang berpihak pada kaum kecil, dan keberanian untuk menantang struktur yang timpang.

Kita hidup di era digital, di mana informasi adalah kekuatan. PCNU telah merambah dunia maya dengan situs web, media sosial, dan aplikasi. Ini adalah langkah maju yang perlu diapresiasi. Tapi apakah kita telah menggunakan kekuatan ini dengan bijak? Apakah konten yang kita sebarkan mampu mencerahkan, atau hanya menambah kebisingan digital? Mari kita ciptakan maslahah digital yang benar-benar memberikan manfaat, bukan sekadar menambah jumlah pengikut.

Kemudian, kita berbicara tentang keberagaman. Depok adalah kota dengan mozaik budaya dan agama. PCNU memiliki peran penting sebagai penjaga harmoni. Namun, apakah kita telah menjadi pelopor dalam dialog antaragama, atau hanya sibuk dengan urusan internal kita? Maslahah sejati terletak dalam kemampuan kita untuk merangkul perbedaan dan menjadikannya kekuatan, bukan ancaman.

Lain itu, bencana dan perubahan iklim di kota sepertinya luput dari pandangan. Bisa jadi tidak tahu, tidak peduli atau tidak ada yang mengerjakan. Banyak Lembaga, tapi seperti wujudhu ka’adamihi. Entah di mana mereka gerangan berada, padahal isu kota semakin kompleks dan butuh suara-suara nahdiyin. Di sinilah letak tantangan terbesar kita. Menjadi penenun maslahah bukanlah pekerjaan mudah. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan komitmen yang tulus.

Mari kita berani untuk mengakui kekurangan kita, dan berkomitmen untuk memperbaikinya. Mari kita terus belajar, terus berinovasi, dan terus bekerja untuk menciptakan maslahah yang sejati. Konferensi PCNU bukan sekadar ajang bertemu, berbicara dan satu dua jabatan, tetapi sebuah kesempatan untuk merajut mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan.

Pada akhirnya, keberhasilan kita tidak diukur dari seberapa meriah acara, atau seberapa banyak yang hadir. Keberhasilan kita diukur dari seberapa besar dampak positif yang kita ciptakan bagi masyarakat. Jika kita mampu menciptakan perubahan nyata, memberikan harapan baru, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, maka kita bisa mengatakan bahwa kita telah menghasilkan maslahah yang sejati.

Sebagaimana kata pepatah, “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita.” Marilah kita bekerja untuk masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang. Marilah kita jadikan setiap benang yang kita tenun sebagai simbol harapan, keberanian, dan cinta. Selamat berkonferensi, PCNU Kota Depok.*

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close