DaerahKeislamanKhazanah

Kiai Hasyim Asy’ari dan Peradaban Islam Aswaja di Tanah Jawa

KH. M Abdul Mujib mengawali pengajian kitab Risalah Ahlussunnah waljamaah di Masjid Ar Rahim Sawangan, Depok. Ahad (22/11/2020) dengan mengajak setiap jamaah dan pendengar yang hadir pada pengajiannya untuk meluruskan niatnya masing-masing.

“Mari kita niatkan pengajian hari ini untuk i’tikaf, ta’lim watta’allum, silaturahim, berkumpul dengan orang-orang baik, menjalankan perintah Allah dan RasulNya untuk mensyiarkan Islam, niat untuk ibadah dan mencari ridho Allah, menjauhi kemaksiatan, serta niat untuk mempertahankan akidah Ahlussunnah waljamaah,” ajak pengasuh pesantren As Sa’adah Depok itu.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Mujib mengkaji kitab Risalah Ahlussunnah waljamaah yang ditulis oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari mengenai pasal tentang berpegangnya penduduk Jawa pada paham Ahlussunnah waljamaah dan awal mula kemunculan bid’ah serta penyebarannya di tanah Jawa. Selain itu beliau juga menjelaskan macam-macam ahli bid’ah saat Hadratussyekh masih hidup.

Kiai Mujib menjelaskan, pada zamannya Mbah Hasyim penduduk Islam di Jawa semuanya bermazhab Ahlussunnah waljamaah. Dalam bidang akidah mengikuti Syekh Abul Hasan Al Asy’ari dan Syekh Abu Mansur Al Maturidi. Sedangkan dalam fikihnya mengikuti mazhab Imam Syafi’i. Adapun dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Al Ghazali dan Imam Abul Hasan As Syadzili.

“Jadi, dulu ketika Islam pertama kali masuk ke Indonesia tidak ada perbedaan paham. Enggak ada Wahabi, Salafi, Syi’ah. Waktu itu pandangan keagamaannya sama (muttafiqil aro), yaitu Ahlussunnah waljamaah,” jelas Kiai Mujib.

Pembaharuan Islam dan kemunculan berbagai macam aliran dalam Islam itu bermula pada tahun 1330 H. Tepatnya setelah runtuhnya Syarif Husein di Mekah. Sejak saat itu banyak orang berseteru juga silang pendapat, dan dari sini pula Islam mulai terpecah belah. Di antara mereka ada orang yang tetap mengikuti salafus sholih dan kitab mu’tabar, mencintai Ahlul Bait dan Auliya’ serta meyakini tawasul. Sebaliknya, ada juga kelompok yang membid’ahkan tawasul, yaitu pengikut Muhammad bin Abdul Wahab seorang pendiri Wahabi.

“Kepada Ahlul Bait kita harus hormat, tapi soal perilakunya ya nanti dulu. Kalau baik ya boleh diikuti, kalau tidak ya tidak boleh diikuti. Karena yang maksum hanya Rasulullah,” tegas Wakil Rais Syuriah PCNU Depok itu.

Pengajian KH. M Abdul Mujib ini dilakukan secara rutin setap Ahad (malam Senin) di Masjid Ar Rahim, Sawangan, Depok. Adapun kitab yang dikaji adalah kitab Risalah Ahlussunnah waljamaah karya Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dan kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al Ghazali.

Pengajian yang disiarkan secara langsung melalui zoom dan youtube ini hendaknya dilaksanakan juga di masjid dan instansi lembaga yang lain. Dalam hal ini bisa bekerja sama dengan Ansor dan IPNU untuk menyiapkan medianya. Sehingga pengajian Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyyah bisa dikenal dan didengar oleh masyarakat luas.

Penulis: Moch Ikmaluddin
Editor: Eqtafa Berrasul Muhammad

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close