Khutbah

Khutbah Jumat: Memasuki Bulan Safar, Waktunya Memperbaiki Hubungan Sosial di Lingkungan Sekitar

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ بِفَضْلِهِ اتَّقَى اْلمُتَقُوْنَ رَبَّهُمْ، وَبِفَضْلِهِ ازْدَلَفَ إِلَى جَنَّاتِ الكَرَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد

فياعباد الله أوصِيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون ، اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin Shalat Jumat yang Dirahmati Allah

Mengapa para khatib selalu mengingatkan jamaah untuk memelihara dan meningkatkan kualitas takwa? Bukan semata hal tersebut sebagai rukun khutbah, namun lebih dari itu agar kita memiliki perhatian khusus untuk meningkatkan takwa kepada Allah. Pengejawantahannya yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Karena hanya dengan itu kita merasa terus dalam pengawasan Allah SWT dalam segala suasana. Tidak semata di tempat sepi, saat bekerja, di jalan dan di manapun juga demikian. Pastikan pengawasan Allah selalu menjadi bagian dari keseharian kita. Dan kalau demikian kenyataannya, maka tentu saja tatanan diri, keluarga, tetangga dan masyarakat akan semakin baik.

Jamaah yang Berbahagia

Anjuran untuk selalu meningkatkan keimanan kepada Allah sangat sering kita dengarkan baik di mimbar dalam jaringan online atau daring hingga luring atau luar jaringan offline. Online maupun offline, kata yang biasanya mengiringinya adalah imbauan untuk juga bertakwa. Maka ditekankanlah para jamaah untuk memperbaiki kualitas ibadahnya, menggiatkan amalan fardlu, lalu menambah dengan yang sunnah. Ciri-ciri dari dampak perubahan kemudian bisa dilihat dari kian rajinnya seseorang datang ke masjid, shalat jamaah semakin sering, frekuensi shalat tahajud bertambah, dan lain-lain. Serentetan anjuran tersebut tentu saja benar. Dan seyogianya perlu mendapat perhatian.

Artinya, semakin banyak aktivitas ‘ubûdiyah seorang hamba menandakan dirinya kian dekat dengan Tuhannya, setidaknya secara kasat mata. Namun, yang penting pula diperhatikan adalah rambu-rambu yang digariskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam soal nilai keimanan seseorang. Beliau pernah bersabda:

وَعَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya:
“Demi Allah, tidak beriman seorang hamba kecuali ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kata lâ yu’minu tidak bermakna kafir dalam pengertian teologis, sebagian Ulama menerjemahkan dan menafsirkannya dengan arti ‘tidak sempurnanya iman seseorang.’ Ini selaras dengan pernyataan bahwa seorang mukmin sejati pastilah akan menaruh kasih sayang kepada orang lain setara ketika ia mengasih-sayangi diri dan keluarganya sendiri.

Bila hal yang demikian tak terjadi, sebagaimana sabda Nabi maka iman orang yang bersangkutan tersebut dianggap tidak sempurna. Hadits ini mengurai tentang keimanan yang ternyata tak semata-mata berhubungan dengan Allah, akan tetapi juga dengan kehidupan antara manusia dengan lainnya. Relasinya tak hanya bersifat horizontal, tapi juga vertikal, hablum minallâh dan hablum minannâs.

Yang menarik di sini adalah Rasulullah menggunakan kata li jârihi (kepada tetangganya) tanpa memberikan atribusi apa pun ‘tetangga yang mana dan yang seperti apa.’ Artinya kasih sayang sosial ini bermakna luas kepada siapapun, tanpa melihat apakah ia pribumi atau pendatang, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, suku ini atau suku itu, bahkan agama A atau agama B.

Hadirin yang Dimuliakan Allah

Dengan demikian keimanan tidak selalu diukur berdasarkan jumlah ibadah seorang hamba kepada Allah SWT saja. Intensitas seseorang dalam mengerjakan ibadah wajib maupun sunnah tidak memastikan kesempurnaan iman seseorang. Namun bukan berarti ibadah itu tidak penting, hanya saja yang patut diperhatikan bahwa Islam tidak hanya meminta umatnya percaya kepada Tuhan, kemudian beribadah terus-menerus. Akan tetapi juga mendorong kita untuk peduli dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Ibadah itu sangat penting, namun peka dan menebar kasih sayang kepada sesama juga tidak kalah penting. Dalam Al Qur’an sendiri, perintah shalat selalu disandingkan dengan perintah zakat. Aqîmus shalâh wa âtuz zakâh (dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat). Shalat mewakili perintah agar seorang hamba menjalin hubungan baik dengan Allah, sedangkan zakat mewakili perintah agar manusia peduli dan membantu sesama.

Keterangan ini semakin menegaskan bahwa manusia tercipta bukan hanya sebagai makhluk individual, melainkan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk yang bersentuhan dengan masyarakat, manusia ditekankan oleh Islam untuk memperhatikan kemaslahatan dan kemudaratan yang berkembang di lingkungan sekitar. Hati orang yang beriman tak akan tega menyaksikan penderitaan orang lain sementara dirinya bersenang-senang.

Mukmin sejati tak mungkin berdiam diri kala menyaksikan tetangganya dalam kesulitan. Hamba dengan iman yang sempurna yang tampak dalam dirinya sifat-sifat gemar menolong, bersedekah, dan lain-lain. Dan hal itu dilakukan tanpa mengharap imbalan apa pun, tulus, sebagaimana dilakukan itu kepada dirinya sendiri.

Berkaitan dengan hal ini, Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Fathur Rabbani wal Faydur Rahmani juga pernah mengatakan: “Jika kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, perempuan cantik, dan harta yang berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara muslimmu mendapatkan kebalikannya, maka sungguh bohong bila kamu mengaku memiliki iman yang sempurna.”

Betapa berat meraih keimanan yang sempurna, dalam hal ini mungkin bisa dikatakan lebih sulit dari sekadar rajin tahajud atau ibadah lainnya. Kenyataan ini mungkin juga menampar sebagian dari kita, di mana setiap dari kita mungkin pernah atau terkadang meremehkan orang lain, di saat yang sama mengunggulkan diri sendiri. Namun dengan ukuran prestasi ibadah yang kita sendiri belum tahu apakah Allah menerima atau menolaknya.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close