Keislaman

Kehidupan, di Balik Cermin Kebenaran dan Kepalsuan

Kehidupan memanglah sebuah kenyataan, namun tidakkah kau merasa bahwa sebenarnya kehidupan itu merupakan wujud dari ketiadaan. Pernahkah kau berpikir, apa sih kehidupan itu? Mengapa kita dituntut untuk menjalani kehidupan ini? Lagi-lagi mengenai kehidupan. Sebuah pernyataan yang menjadikan kita bingung atasnya, sebuah eksistensi yang penuh akan teka-teki dan misteri.

Proses kehidupan berjalan dengan alur di mana kita menjadi layaknya seorang aktor yang memiliki sifat antagonis, protagonis, ataupun tritagonis dalam suatu film drama,

Di dalam kehidupan itu ada banyak kontroversi yang akan menjadikan kita tertarik dengan teka-teki di dalamnya, atau bahkan puncak titik jenuh yang akan kita dapati. Namun terkait semua hal ini dapat kita atur dengan sebaik-baiknya, dalam artian walaupun kita tidak diberikan peranan secara mutlak, kita dapat mengatur beberapa bagian dari diri kita agar tidak salah dalam mengambil suatu keputusan.

Adapun syarat sah yang harus kita miliki dalam mengambil suatu keputusan yaitu kepemilikan akan ilmu pengetahuan, dikarenakan manusia tanpa ilmu itu ibarat jasad tanpa jiwa, atau layaknya lampu tanpa cahaya.

Kehidupan kita itu tidak lepas dari ilmu pengetahuan, karena setiap sesuatu yang ada dalam hidup ini pasti membutuhkan pengetahuan, seperti halnya dalam melaksanakan ibadah, kita harus memiliki ilmu pengetahuan, karena jika kita tidak memiliki pengetahuan untuk beribadah, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas ibadah tersebut.

Dan pada dasarnya adanya manusia tanpa ilmu pengetahuan itu sama dengan tiada, keberadaannya itu tidak berguna, atau bahkan menyusahkan orang yang ada di sekitarnya, dan ia akan selalu melakukan rutinitas yang sama seperti sebelumnya, di saat orang lain telah bangkit serta meraih kesuksesannya, ia masih saja sibuk dengan kehidupannya yang penuh akan berbagai macam khayalan.

Namun justru acapkali yang kita dapati dalam realita kehidupan ini yaitu manusia yang menyia-nyiakan ilmu pengetahuan itu sendiri, Dalam artian suatu ilmu pengetahuan yang telah diketahui bahkan tidak hanya sebatas mengetahuinya, melainkan telah dipelajarinya secara terperinci, hingga dipahaminya dengan baik sekaligus hafal akan dasar atau dalil atas ilmu pengetahuan tersebut justru dianggap remeh dan dipandang sepele. Padahal ini adalah sikap dan perilaku yang tidak sepatutnya dimiliki serta dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Kehidupan merupakan wujud dari ketiadaan, kalimat yang sangat cocok untuk mengutarakan apa yang terjadi di masa sekarang ini. Mengapa demikian, karena pada hakikatnya manusia itu dituntut untuk menjalani kehidupan dengan semestinya, yakni menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya serta mengamalkan apa yang ia telah ketahui, pelajari, dan pahami dengan baik.

Akan tetapi yang dapat kita saksikan dalam hidup ini justru sebaliknya. Apa yang manusia telah ketahui, pelajari, dan pahami itu hanya dijadikan penghias dirinya saja. Bahkan lebih dari itu ada orang yang hanya menjadikan ilmu sebagai alat untuk menyombongkan diri dan lain sebagainya, sangat ironis bukan. Seolah hidup ini hanya tentang cermin kepalsuan yang dikemas dengan sedemikian rupa agar setiap kepentingan yang ada dapat terjaga sehingga apa-apa yang telah direncanakan dapat dicapai dan terwujud.

Dengan ini maka sudah sepatutnya kita sebagai hamba Allah untuk selalu belajar menjadi manusia yang terpelajar dan berilmu pengetahuan, serta belajar dari tumbuhan padi yang semakin berisi akan membuatnya semakin merunduk. Sebab kita hanyalah manusia biasa yang tidak akan pernah apa-apa tanpa izin dan ridha dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Wallahu A’lam

Kontributor: Eqtafa Berrasul Muhammad

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close