DaerahLembaga & OtonomTokohWarta

Jatman Sukmajaya Kenang Al-Marhum Mursyid Syeikh Abdul Hamid Husen

Meninggalnya seorang Tokoh Ulama Kharismatik, Mursyid Thariqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah pada pukul 15.00 di hari ke-3 Syawal 1443 H. Tepatnya di Kota Jakarta Selatan, seorang ulama sekaligus Murobbi (membimbing) masyarakat sekitar Jalan H. Samali, Pasar Minggu. Beliau bernama KH. Abdul Hamid Husen, dikenal dengan keramahan, pribadi yang rendah hati serta arif bijaksana, sikap yang penuh kasih sayang, kelembutan, menghormati dan menghargai siapa saja, tidak pernah mencela, tidak merendahkan siapa pun, berdakwah menebar Islam Aswaja An-Nahdliyah ala Thariqoh Mu’tabarah.

Adapun Sanad Thariqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah Al-Marhum KH Abdul Hamid Husen dari gurunya Syeikh Muslih bin Abdurahman Al-Maraqi, Syeikh Abdul Lathif Banten, Syeikh Abdul Al-Waqit Syeikh Abdul Karim Syeikh Ahmad Khatib As-Sambasi.

Sanad Thariqoh sampai ke Syeikh Imam Musa Al-Kazim bin Syeikh Imam Ja’far As-Shadiq bin Syeikh Imam Muhammad Al-Bagir bin Syeikh Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein (Cucu Rasulullah SAW) bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW.

Rois Ghutsniyah Jatman Kec. Sukmajaya Kota Depok menceritakan pengalamannya menjadi murid dari Mursyid Thariqoh Syeikh Murobbi Abah Abdul Hamid Husen.

“Banyak sekali pelajaran yang saya terima selama 23 tahun dibawah bimbingan Beliau. Beliau banyak mengajarkan melalui sikap dan perbuatan. Cara hidup Beliau adalah pelajaran yang sangat membekas dan berharga bagi saya, akhlak dalam kehidupan keseharian Beliau adalah pesan terbesar bagi saya,” Tutur Alumni Pesantren Al-Hamidiyah Depok

Lanjutnya, bahwa Syeikh Abah Abdul Hamid Husen dalam memberikan teguran, “Beliau menegur dengan cara dan ucapan yang tidak ingin menyakiti orang yang ditegur. Beliau membuat orang yang bersalah menjadi sadar akan kesalahannya tanpa merasa disalah-salahkan, menerima siapa saja yang ingin bertemu tanpa membedakan usia,” Ujar Dewan Khos Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Sukmajaya Kota Depok.

Allah Yarhamuh Syeikh Abah Abdul Hamid Husen mengajarkan kepada saya bagaimana seharusnya menjadi seorang hamba bagi Allah sebagaimana seorang budak kepada tuannya. Beliau katakan “Budak itu apa kata tuannya, memenuhi keinginan tuannya, bukan keinginan hatinya,” Kenangnya.

Al-Marhum di kenal Sebagai ulama besar, Mursyid dari sebuah Thariqoh, memiliki gelar doktoral dari beberapa kampus ternama di Mesir, Saudi, Amerika, dan Perancis, Beliau tidak pernah menunjukkan hal itu semua. Bersikap sederhana, berpakaian sederhana, menyembunyikan dirinya, layaknya seorang yang biasa saja.

“Beliau tidak pernah mengatakan ‘makanan ini tidak enak’, tapi Beliau akan mengatakan ‘makanan ini tidak cocok di lidah saya’. Beliau tidak mengatakan ‘surga yang paling rendah sampai yang paling tinggi’, tapi Beliau akan mengatakan ‘surga yang tinggi dan yang lebih tinggi’. Begitu juga ketika Beliau mengatakan tentang maqomat dan derajat kewalian, Beliau akan mengatakan ‘derajat yang tinggi dan yang lebih tinggi darinya’. Beliau katakan kepada saya, “wali gak ada yg rendah, surga gak ada yang rendah, semuanya tinggi. Dan ketika seseorang mengatakan ‘surga yg terendah, pangkat kewalian yg terendah’, dia sudah berdusta,” Pungkas Pimpinan Majelis Annurul Isroqy.

Pewarta : Abdul Mun’im Hasan

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close