Nasional

Harlah Ke-94: PBNU adakan Istighosah Akbar & Ijazah Kubro Hizib Jalbil Arzaq

Jakarta – Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta Pusat diserbu ribuan jamaah dari berbagai daerah untuk menghadiri acara Istighosah Akbar Kubro dan Ijazah Kubro Hizib Jalbil Arzaq oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A Dalam rangka harlah NU ke-96, Rabu (29/01/20).

Dalam Istighosah Akbar tersebut dipimpin oleh KH. Misbahul Munir (Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU). Acara berlangsung secara khidmat dan lancar tanpa kendala berarti. Selain itu juga dihadiri ribuan warga nahdliyin yang mulai berdatangan semenjak sore hari

Acara tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah PBNU dan spesial karena dihadiri oleh Habib Hadad Alwi Assegaf, K.H.R. Azaim Ibrahimy (Pengasuh Pondok Pesantren salafiyah syafi’iyah Sukorejo Situbondo), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A. (Ketua Umum PBNU), Drs. KH. Agus Salim (Ketua Lembaga Dakwah PBNU).

Pada acara itu Ketua Umum PBNU menyampaikan pesan bahwa pentingnya penguasaan digital dan online oleh warga nahdliyin dari kelompok sedikit. Warga Nahdliyin banyak tetapi selalu hanya dimanfaatkan ketika pemilu saja, usai terpilih Pejabat ditinggalkan begitu saja.

“Kita warga NU yang mayoritas jangan sampai kalah dengan kelompok yang sedikit tapi malah mereka yang menguasai medsos. Kita banyak warganya tapi hanya dimanfaatkan saja ketika pemilu Rt, Rw, Kades, Bupati, Gubernur, hingga Presiden datang minta doa dan dukungan setelah jadi di tinggalkan begitu saja”, ucap beliau.

Selain itu, Ketum PBNU juga mengatakan pentingnya kemandirian NU khususnya dalam Muktamar 2020 di Lampung, karena telah tercipta sebelum NU lahir.

“Kemandirian NU sudah tercipta sebelum NU lahir, yaitu ketika masih berwujud embrio gerakan-gerakan seperti Nahdlatut Tujjar (Bidang Ekonomi), Tasywirul Afkar (Bidang Ilmu dan Budaya), Nahdlatul Wathon (Bidang Politik dan Pendidikan). Maka dari itu pada Muktamar NU di Lampung 2020 akan dibiayai dengan Gerakan KOIN MUKTAMAR NU sebagai bukti & wujud kemandirian sejak dulu”, tegas beliau.

Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, KHR. Azaim Ibrahimy mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan kembali berjaya dan bermanfaat bagi umat jika kembali ke Khittah NU dan tidak terlibat politik praktis.

“Nahdlatul Ulama (NU) jika kembali ke Khittah 1926 yang digulirkan di Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 dan tidak aktif terlibat dalam politik praktis pemilu, Maka NU akan kembali berjaya dan bermanfaat bagi umat, bangsa dan negara. Sehingga tidak di terbawa dalam euforia pemilu sehingga melupakan Khittahnya”, ucapnya beliau.

Kontributor: Alfin Miftahus Surur

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close