Uncategorized
Terkini

Hari Kemenangan Itu

(Karya Abdullah Wong)

Puas, bangga dan merasa berhasil menjalankan puasa sebulan penuh,
Menang lantaran peperangan. Menang lantaran lelah tarawih dan berpeluh.
Menang lantaran zakat fitrah untuk harta yang keruh.

Itukah Kemenangan?
Itukah hari kemenangan?

Hari yang menjadikan kita merasa suci seperti bayi yang baru dilahirkan?
Hari ketika kita terbebas dari lapar dan haus?
Hari ketika kita merasa mampu mengalahkan nafsu-nafsu yang selama ini terbelenggu di bulan Ramadhan?

Itukah kemenangan?
Kemenangan siapa?
Kemenangan atas apa?

Jangankan puasa, sholat dan zakat, hingga seluruh ibadah yang lain, bahkan seluruh hela nafas dan gerak yang selama ini diselenggarakan, mustahil berlangsung kecuali Rahmat dan Pertolongan Allah.

Asumsi macam apa yang menjadikan kita tiba-tiba merasa mampu berpuasa, mampu sholat, mampu zakat, mampu membaca dan memaknai al-Quran, bahkan merasa diri ini sebagai manusia suci lantaran semua perintah Tuhan telah kita tunaikan?!

Laa hauwla walaa quwwata illa billah…

Apakah kemenangan itu ketika kita egois, merasa benar sendiri seraya merepotkan orang lain bahkan mengancam keselamatan sesama?

Apakah kemenangan itu ketika kita memohon Ampun Allah, sementara kita tidak mau memaafkan kepada sesama, tak bersedia menjamin rasa aman kepada sesama?

Begitu angkuhnya kita, ketika kita memohon Rahmat Allah, tapi dalam waktu yang sama, kita tidak peduli kepada sesama, kepada saudara-saudara kita sendiri?

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar

Inikah hari kemenangan itu? Hari dimana kita bertakbir tapi hati kita penuh takabur karena merasa paling dekat dengan Allah sehingga merasa yang paling diselamatkan Allah.

Bagaimana kami menjelaskan kepada anak cucu kami, ketika saudara-saudara kami di sana berjuang mati-matian demi kami, tapi dengan congkak kami tak peduli.

Yaa Sayyidii – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan mengajak kami untuk masuk ke dalam goa Hira-mu, sebagaimana engkau berdiam di goa Hira ketika melihat kesombongan kaum jahiliyyah.

Yaa Muhammadu – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan meyakinkan kepada kami, meski seluruh masjid ditutup karena makhluk Allah, tapi siapa pun tak akan pernah mampu menutup tempat sujud kami.

Yaa Mahmud – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan mengingatkan kepada kami, meski jalan-jalan di seluruh negeri ditutup, tapi siapa pun tak akan pernah mampu menghalangi persaudaraan kami.

Yaa Ahmad – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan mengajari kami bagaimana mencintai sesama tanpa menyusahkan dan menyengsarakan saudara-saudara kami.

Yaa Thoha – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan mengajari kami bagaimana ikhtiar dan tawakkal kepada Allah tanpa kesombongan dan merasa hebat sendiri.

Yaa Yasiin – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan mengajari kami bagaimana berterima kasih kepada saudara-saudara kami yang ikhlas berjuang, berkorban waktu dan tenaga bahkan memertaruhkan nyawa.

Yaa Mudatsirun – Ya Rasulallah
Kiranya engkau berkenan mengajari kami untuk insyaf dan bersyukur bahwa Ramadhan dan Idul Fitri ini adalah Anugerah Allah yang terbaik.

Wa Subhanallah wamaa ana mina musyirikin
Wa Hasbunallah wa ni’mal wakil
Wa laa haula Walaa Quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim

Hari ini, perkenankan kami
menghaturkan kepada para pejuang kemanusiaan,
terima kasih untuk segenap dan segalanya.

Ramadhan ini milikmu.
Idul Fitri ini untukmu.
Dan Kemenangan, adalah dirimu.

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close