KeislamanKhazanah

Hakikat Perjalanan Hidup Manusia

Diceritakan pada suatu hari ada seorang sahabat yang memberikan saran dan nasihat pada kawannya untuk self healing dengan menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan seraya mengucap لا اله الا الله.

Hal yang cukup sederhana, namun sarat akan hikmah dan nilai-nilai keilahian yang luar biasa istimewa.

Pertama, dengan hal ini ruang dalam otak dan alam pikiran langsung teringat pada perbedaan manusia yang masih hidup di dunia dan yang telah kembali padaNya itu terletak pada kata “napas.” Secara dzohir mereka memang pergi, akan tetapi secara batin mereka ada jauh di sana dalam dada.

Kita hanya perlu percaya bahwa mereka sudah tenang dan damai di sisiNya. Di samping itu kita juga melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya dan menghadiahkan doa dalam setiap kesempatan yang ada.

Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali 3 (tiga) perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih.”

Kedua, di dunia ini kita hanya singgah sementara, tidak seharusnya kita menghabiskan waktu yang tersisa dengan hal-hal yang tidak berguna. Selain itu juga tidak sepatutnya kita bersedih dengan kepergian orang-orang yang kita cintai secara berlebihan, karena sejatinya mereka itu hanya pulang, pulang kembali pada sang Pencipta.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Alquran Surat al Baqarah ayat 156.

إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎

Artinya:
“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali. (QS. al Baqarah [2] : 156).

Ketiga, Maulana Jalaluddin Rumi berkata, ucapan selamat tinggal hanya ada untuk mereka yang mencintai dengan mata. Karena tidak ada perpisahan bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa.

Jadi mereka hanya berbeda sebutan “dunianya” saja. Di sini kita berlomba-lomba dalam menabung bekal untuk pulang, sedang mereka mempertanggung jawabkan bekal dan amal yang mereka perbuat selama hidup di dunia.

Keempat, Maulana Rumi juga pernah berkata, agamaku adalah hidup dari cinta.

Di sini Rumi tak mengatakan bahwa Ia tak punya agama, tapi Ia ingin menjelaskan bahwa agamanya adalah yang memberikan kehidupan, yang
menciptakan kebahagiaan dan yang menjaga kehidupan.

Agama yang senantiasa hadir, baik di dunia ini maupun di dunia sana. Ketika kita menemukan kehampaan dan keterpurukan, ia menjadi tempat bersandar (sandaran) yang nyaman dan indah untuk meraih serta menyelami makna.

Inilah agama sejati, agama yang mampu memberikan pertumbuhan pada manusia, yang mampu membawanya
kepada kesempurnaan hidayah, dari sekadar hidup sebagai anak Adam menjadi manusia ilahi dengan nilai-nilai fitrah kemanusiaan.

Inilah makna agama yang sebenarnya, yang mekar dengan penuh keasrian dan memberikan kesegaran tanpa henti. Bukan sebaliknya yang justru membuat banyak hal menjadi layu, kering, dan akhirnya jatuh. Wallahu a’lam.

Kontributor: Muhammad Daris Dhabit Muyassar
Editor: Eqtafa Berrasul Muhammad

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close