AmaliahAqidah

Habib Zein bin Ibrahim bin Smith dan Amalan di Hari Jum’at

Hari Jum’at menjadi hari spesial bagi kaum Muslim. Hari yang dalam riwayat Qur’ani dan hadist Nabi Muhammad SAW. Menjadikan hari istimewa tersendiri.

Hari jum’at dikenal dengan dirajanya hari (سيد الايام). Di dalamnya penuh kemuliaan. Hal ini menjadikan amalan mendapatkan pahala.

Beberapa amalan yang didawamkan oleh para Ahli Thoriqoh Alawiyah. Seperti yang disampaikan oleh al-Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-‘Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da’i ilallah, as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim bin Smith  lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M.

Adapun amalan tersebut adalah :

A. Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW setelah Ashar dengan jumlah 80 kali.

من صلى على النبي صلى الله عليه وسلم بعد عصر الجمعة (بأي صيغة ) ثمانين مرة

غفر له ذنوب ثمانين سنة ، فإن لم يكن عليه مايقابل هذا غفر ﻵبائه ورفع في درجاته

Barangsiapa yang bersholawat kepada Nabi SAW setelah ashar hari jum’at 80 kali, maka Allah SWT akan mengampuni dosanya 80 tahun, jika memang si pembaca tidak memiliki dosa sebanyak itu,maka keutamaan tersebut akan diberikan kepada kedua orangtuanya dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka.

B. Bersholawat dengan Shigoh Khusus setelah Ashar

وورد أن من صلى بهذه الصيغة : (اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي

وعلى آله وصحبه وسلم تسليما) بعد عصر الجمعة كتب له عبادة ثمانين سنة مع ما ذكر

Ada riwayat bahwasannya yang membaca sholawat dengan sighoh ini

(اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليما)

ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIY WA ‘ALAA AALIHI WASOHBIHI WA SALLIM TASLIIMAA setelah asar hari jum’at, maka akan ditulis untuknya pahala ibadah 80 tahun.

Adapun faedah (manfaat) bagi mereka yang memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Adalah sebagai berikut.

ومن اكثر الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم يكفى همه ويغفر ذنبه ويقضى دينه

وكانت له شفاعة عند النبي صلى الله عليه وسلم وكان اقرب منزلا من النبي صلى الله عليه وآله وسلم يوم القيامة

Barangsiapa yang memperbanyak sholawat atas Nabi SAW, maka Allah SWT akan menyelesaikan semua urusannya, mengampuni segala dosanya, melunasi hutangnya, dan sholawat tersebut akan menjadikan sebab dia memperoleh syafaat Nabi SAW, dia kan berada paling dekat kedudukan-nya di sisi Nabi SAW pada saat hari kiamat.

Patut diketahui bahwa Habib Zein bin Smith  lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M. Ayahnya Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu. Selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.

Sejak kecil Habib Zain bin Smith sudah berada dalam lingkungan agamis, mendapatkan ilmu pengetahuan lainnya dan mengamalkan amaliah sehari-hari. Orang tuanya Mengetahui Habib Zain bin Smith memiliki kelebihan dibanding saudara- saudara lainnya, ayahnya memberikan pendidikan ekstra. Tak hanya ilmu, akhlak pun ditekankan pada diri Habib Zain bin Smith.

Beliau merupakan zuriyah Rasulullah dari jalur Al-Huseini. Adapun nasab beliau ialah al-Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-‘Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da’i ilallah, as-Sayyid al-Habib Abu Muhammad Zain bin Ibrahim bin Zain bin Muhammad bin Zain bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali bin Salim bin Abdullah bin Muhammad Sumaith bin Ali bin Abdurrahman bin Ahmad bin Alwy bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwy (‘Ammul al-Faqih al-Muqqadam) bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali Qatsam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy Ba’Alawy bin ‘Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rummi bin Muhammad An-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib dan Sayidah Fathimah binti Rasulullah SAW.

Habib Zain bin Smith seorang yang bertubuh tingg yang lidahnya selalu dibasahi dengan dzikir thoriqoh alawiyah, tasbih hampir tidak pernah berpisah dengan tangannya. Selalu mengenakan sorban putih, dan mengenakan sarung dan pakaian sebagaimana kebiasaan para salafus sholih di Hadramaut dan Indonesia.

Habib Zain bin Smith memiliki waktu khusus dalam wirid, dzikir ibadah lainnya. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya dengan bertaqorrub kepada Allah SWT. Di waktu pagi Habib Zain bin Smith keluar melaksanakan sholat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi hingga matahari terbit. Setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majelis rauhah digelar setelah asar hingga waktu maghrib tiba. Lalu beliau melanjutkan mengajar hingga menjelang Isya. Setelah itu, beliau pergi ke masjid nabawi untuk melakukan shalat Isya dan berziarah ke makam datuknya yang mulia dan agung, Rasulullah SAW.

Penulis : Abdul Mun’im Hasan

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close