DaerahLembaga & Otonom

Dialog Budaya PCNU Depok

NUDepok.com. PCNU Depok melakukan terobosan spektakuler dengan menyelenggarakan kegiatan Dialog Budaya Ramadhan di lantai II Gedung PCNU Depok, Minggu (24/3/2024).

Acara Dialog Budaya dilaksanakan pada pukul 14.30-16.00 menghadirkan 3 pakar Seni Budaya NU Dr. Bondan Kanumoyoso, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Depok, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw dan KH. Abdullah Wong.

Kegiatan ini dihadiri seluruh jajaran kepengurusan dan lembaga otonom PCNU, baik Syuriyah, Tanfidziyah, Fatayat, Muslimat, JATMAN, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Lesbumi, Banser dan lain-lain.

Dalam pemaparannya, Dr. Bondan menyampaikan bahwa dibanding ormas lain, NU jauh lebih maju dan lebih tinggi peradabannya karena mampu bersikap egaliter, inklusif, terbuka, berada di atas semua golongan, mampu menjaga dan memelihara warisan budaya Indonesia.

Lebih lanjut Dr Bondan menyampaikan, Organisasi NU mampu mewarnai perjalanan sejarah kehidupan bangsa Indonesia dalam nuansa ajaran ahlis sunnah wal jamaah. Bahkan lebih jauh, NU merupakan ormas yang paling luas penerimaannya karena mampu bersinergi dengan budaya dan agama lain.

Masih Dr. Bondan. Ia menjelaskan bahwa NU mampu melahirkan budayawan dan tokoh perfilman Indonesia seperti Usmar Ismail dan Jamaludin Malik yang terkenal sebagai maesto sastrawan dan tokoh perfilman Indonesia pada masanya. Melalui jalur sastra dan film keduanya mengikuti jalur dakwah Walisongo yang mengajarkan Islam di Indonesia dengan mensinergikan jalur seni, sosial budaya dan dan dakwah inklusif.

Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, sebagai penggerak dan punggawa Lesbumi, (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) secara lebih tegas memiliki visi dan misi yang lebih konkrit dengan menyampaikan spirit NU melalui jalur kebudayaan. Melalui jalur seni musik yang dibingkai dengan gaya dakwah yang menghibur, Lesbumi dan Grup Musik Ki Ageng Ganjur melalui tangan dingin Zastrowi Al-Ngatawi menjadi wasilah bagi NU dalam rangka mengajarkan Islam kepada masyarakat.

Dr. Ngatawi Al-Zastrouw menjelaskan lebih lanjut bahwa sejatinya Pancasila adalah sebagai wasilah Islam untuk hadir di Indonesia. Karena 5 sila yang terdapat dalam Pancasila, semuanya membawa nilai-nilai Islam yang selaras dengan model dakwah yang dibawa oleh NU. Pesan-pesan yang terdapat dalam Pancasila pada hakikatnya adalah implementasi ayat-ayat Al-Quran yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang selaras dengan budaya dan kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Dalam pemaparannya, budayawan NU, KH. Abdullah Wong menyoroti secara khusus ayat-ayat yang menguatkan tentang besarnya peran kebudayaan dalam membumikan ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga ajaran Islam dapat diterapkan sesuai dengan konteks masyarakat, masa, waktu, tempat dan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.

KH. Abdullah Wong mengutip Ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30: Inni ja’ilun fil ardhi khalifah. Ia menjelaskan, dimana bahwa kata Khalifah dapat diartikan sebagai pengganti.

Khalifah secara filosofis dapat dimaknai sebagai pengganti peran Tuhan di buka bumi. Karena peran Tuhan di buka bumi diwakilkan kepada sosok Nabi Muhammad SAW, maka dalam hal ini istilah khalifah bagi para khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar Usman Ali). Khalifah dapat dipahami karena mereka adalah sebagai pengganti peran Nabi Muhammad dalam membawa risalah agama Islam kepada ummat Muhammad.

Ayat berikutnya adalah Surat Surat Iqra’ pada ayat “allama bil qolam”. (Mengajarkan dengan pena. Secara simbolis dapat dipahami bahwa pesan kebudayaan tidak akan sampai tanpa adanya pena. Sehingga kemudian setiap peristiwa kebudayaan dapat tersampaikan melalui pena/tulisan.

Berikutnya KH. Abdullah Wong menjelaskan kedalaman makna ayat-ayat berikutnya yang menjelaskan keterkaitan antara kata alim, ilmu, amal dan alam. Semua yang disampaikan di atas pada intinya menunjukkan bahwa antara Tuhan, Manusia, Alam, Ilmu dan Kebudayaan semuanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Sehingga kedalaman makna ayat Al-Qur’an yang mampu dijelaskan dengan sangat detail oleh para ulama NU menunjukkan ketinggian ilmu dan pemahaman yang tinggi yang belum dapat dijangkau oleh kelompok lain yang selama ini mengusung sistem khilafah Islamiyah.

Sementara itu Ketua Tanfidziyah PCNU, KH. Achmad Sholehan menjelaskan bahwa kegiatan dialog budaya ini penting dilakukan untuk mewujudkan kerukunan dan kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat. Karena aspek dan nilai-nilai kultur budaya tradisional Indonesia sesungguhnya selaras dan bersinergi dengan budaya Islam maupun tradisi beragama yang dibawa oleh NU. Dengan penguatan nilai-nilai budaya Islam Indonesia di bawah tradisi amaliyah ala Nahdhiyyah insyaAllah akan mampu menyelamatkan bangsa dari perpecahan, godaan ektrimisme, sikap tidak toleran, merasa paling benar dan suka menyalahkan pihak lain yang berbeda pemahaman.

Lebih lanjut , KH. Achmad Sholehan menyampaikan bahwa tradisi sholawatan, tahlilan, kegiatan seni musik religi, dialog budaya, dan tradisi beragama ala NU akan mampu membawa kehidupan beragama Indonesia dalam nuansa yang lebih damai, santun, toleran dan mampu membawa kehidupan yang lebih harmonis bagi semua kalangan sehingga pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah akan dapat berjalan dengan baik dalam bingkai Islam rahmatan lil alamin.
(Gus Azman-Depok, 25/3/202)

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close