Opini

Dari Pena Santri Untuk Para Kiai Zaman Kini

Santri (baca: Manusia) yang cerdas merupakan santri yang pandai memanajemen waktunya secara baik.

Termasuk waktu dalam belajar guna menuntut ilmu serta pengalaman. Usia, status sosial, kesibukan atau satu hal lain tidaklah menjadi batu sandungan atau duri penghalang dalam perjuangan berguru ilmu, menempuh keterampilan dan menimba pengalaman

Bagi kita para relawan literasi, kemahiran dalam memanajemen waktu khususnya dalam hal menulis, berkarya serta menjalankan rutinitas literasi sangat dibutuhkan. Oleh karena itu perlu adanya penyerapan dan penggalian informasi guna mendapatkan tips maupun strategi dalam pengelolaan manajemen LITERASI SANTRI di ranah pesantren.

Komunitas GPS, Gerakan Penulis Santri hadir dengan mengusung cita-cita peradaban literasi yang mewujudkan tata dunia santri yang dapat menumbuhkan energi harmoni literasi santri.

Pada dasarnya format ideal bagi konstruksi komunitas literasi adalah pelayanan bagi pegiat literasi, menetapkan dan menerapkan regulasi agar pelayanan dapat diakses secara mudah serta praktis dan mobilisasi sumberdaya untuk mencapai format ideal itu.

Zaman terus berkembang dan beragam sehingga menuntut inklusivikasi khidmah dan kebangkitan tradisi literasi kaum santri, dengan kata lain merawat dan melestarikan budaya sastra pesantren. Dengan begitu kebangkitan intelektualisme, kebangkitan kaum santri melalui sektor literasi dapat bertransformasi.

Jika menarik sejarah, dunia islam melahirkan Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd mewakili kecemerlangan Kordoba. Beliau menulis banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk filsafat, akidah, kedokteran, astronomi, fisika, fikih, dan linguistik. Ibnu Rusyd telah membangun peradaban dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana kiprah Al Ma’mun untuk pengetahuan dan peradaban Islam bagi masa depan kemanusiaan.

Kini kita telah memasuki era baru. Kemampuan memproduksi berbagai karya otak dan hati sebagian kita pasrahkan pada teknologi kecerdasan buatan bernama AI Generatif (Generative AI).

Pengembangan komputer makin berlanjut, teknologi kecerdasan buatan makin dekat dengan urusan keseharian. AI Generatif bukanlah konsep baru. Teknik pembelajaran mesin di balik AI Generatif telah berkembang selama satu dekade terakhir. Pembelajaran mendalam dan pendekatan General Adversarial Network (GAN) telah digunakan, tetapi pendekatan terbaru bakal membuat perubahan besar.

Sebenarnya AI Generatif telah ada selama bertahun-tahun. Namun dalam 18 bulan terakhir teknologi ini telah mampu menghasilkan karya yang boleh dibilang tergolong sangat bagus. Teknologi ini mampu menciptakan karya seni, menulis, dan membuat konten lain dengan sentuhan mirip manusia. Sangat mungkin, orang yang melihat dan membaca karya kecerdasan buatan ini tak bisa membedakan mana yang hasil dari manusia dan mana dari produk kecerdasan buatan.

Al-Ma’mun menempatkan para intelektual dalam posisi yang mulia dan sangat terhormat. Para filosof, ahli bahasa, dokter, ahli fisika, matematikus, astronom, ahli hukum, serta sarjana yang menguasai ilmu lainnya “digaji” atau diberikan upah dengan bayaran yang sangat tinggi.

Dengan insentif dan gaji yang sangat tinggi, para ilmuwan itu dipecut semangatnya untuk menerjemahkan berbagai teks ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa seperti Yunani, Suriah, dan Sansekerta.

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mengirim seorang utusan khusus ke Bizantium untuk mengumpulkan beragam manuskrip termasyhur yang ada di kerajaan itu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Baghdad yang sentosa. Orang-orang meriuh lalu lalang. Menara-menara menjulang. Suara azan berkumandang dari kejauhan menandai maghrib yang datang bersama semburat lembayung yang muncul di langit sebelah barat.

Pandangan Al-Ma’mun menatap lurus ke arah gurun besar yang terhampar di sebelah kota Baghdad. Ke sanalah ia mengutus tim ekspedisi khusus yang dibentuknya demi memenuhi ambisi dan keingintahuannya yang paling dalam sejak masa kanak: berapa besar sebenarnya ukuran bumi ini?.

Dari salah satu kitab yang ditulis Ptolomeus, ia membaca bahwa panjang keliling bumi adalah sekian ribu shades. Tapi apa itu shades? Benarkah klaim Ptolomeus itu? Para ahli bahasa, penerjemah, dan para ilmuwan yang dipanggilnya hanya memberi jawaban yang berbeda-beda dan malah membuatnya semakin bingung.

Khalifah Al Ma’mun pada masanya begitu mencintai pengetahuan dan ia disukai banyak ilmuwan. Pengetahuan dan peradaban Islam di masa khalifah Al Ma’mun yang begitu mencintai pengetahuan dan ia disukai banyak ilmuwan, meskipun jejaknya sekarang hilang.

Al Ma’mun, atau lengkapnya Abū Jaʿfar Abdullāh al-Ma’mūn ibn Hārūn al-Rashīd, khalifah ke-tujuh dari Dinasti Abasyiah itu berdiri di balkon Bait al-Hikmah yang megah, yang dibangun berdasar saran para ahli nujum dan arsitek terbaik zaman itu.

Dinasti Abasyiah tengah berada di puncak kejayaannya setelah sekitar seabad lalu berhasil menggulung kekuasaan para keturunan Abu Sufyan.

Di hadapannya membentang kota Baghdad yang sentosa. Orang-orang meriuh lalu lalang. Menara-menara menjulang. Suara azan berkumandang dari kejauhan menandai maghrib yang datang bersama semburat lembayung yang muncul di langit sebelah barat.

Kegandrungan Al-Ma’mun dan keingintahuannya pada “hal-hal sepele” (seperti ukuran bumi, letak bintang tertentu, ukuran lintasan matahari, dan semacamnya), membuat proyek ilmu pengetahuan saat itu melampaui apa yang menjadi tugas utamanya.

Jika sebelumnya para ilmuwan hanya bergelut dengan upaya-upaya teknis pemetaan dan astronomi demi kebutuhan relijius: menentukan arah kiblat yang tepat (ingat, semakin jauh orang islam dari tanah Mekah maka semakin rumit pula mereka menentukan arah kiblat), di bawah perintahnya pencarian pengetahuan menjadi upaya besar untuk meneruskan jejak para bijak Yunani kuno yang dengan konyol dicampakkan bangsa Romawi.

Mata tajam al-Ma’mun sewaktu di balkon itu masih menatap turunnya Maghrib. Dibenaknya tersimpan beribu pertanyaan dan keingintahuan. Kekuasaan besar yang ia raih pada tahun 813 M melalui pertikaian penuh darah dengan saudara tirinya—al Amin—ia dedikasikan betul pada upaya-upaya ilmu pengetahuan.

Untuk diketahui, pernah ada tim ekspedisi yang berangkat menuju gurun Sinjar di dekat kota Mosul. Di sana mereka mulai mengerjakan pemetaan bumi, mengukur satu derajat lingkaran bumi, melanjutkan upaya yang pernah dilakukan ahli matematika Yunani kuno, Eratosthenes, untuk kemudian menghitung panjang lingkaran bumi.

Dan tim ilmuwan itu menyusuri garis meridian sambil membawa alat pengukur berbasis sinar matahari. Sambil membelai rambut janggutnya yang sebagian sudah mulai memutih, di kala maghrib itu al-Ma’mun menunggu laporan para penelitinya. Sebuah penelitian yang satu abad kemudian oleh al-Biruni dianggap sebagai metode usang yang tidak perlu.

Mewarisi pengetahuan yang dirangkum di dalam Bait al-Hikmah yang didirikan al-Ma’mun, di sebuah puncak gunung di daratan Hindustan, al-Biruni menemukan cara trigonometrik untuk mengukur keliling bumi tanpa harus berpanas-panasan di atas gurun pasir seperti yang dilakukan para peneliti al-Ma’mun.

Hal-hal serupa temuan al-Biruni inilah barangkali yang diimpikan oleh al-Ma’mun, yang kadang tak sempat dipetiknya sendiri: “pengetahuan yang melimpah dan berkembang tanpa batas”

Sehimpun tulisan sederhana ini yang mengisahkan kiprah singkat dua nama-nama besar; Ibnu Rusyd dan Al-Ma’mun dalam dunia peradaban dan pengetahuan islam telah memberikan bukti sejarah bahwa masih banyak nama-nama besar lainnya bagi masa depan kemanusiaan.

Hanya saja pada waktu itu belum cukup wawasan untuk membangun nalar tentang bagaimana perjuangan untuk membangun peradaban dan pengetahuan di tengah-tengah perubahan momentum sejarah. Negara-negara sekarang sudah hampir tidak ada yang memakai identitas agama, hanya sebagian sisa-sisa Turki Utsmani, itupun tidak semua. Namun Mesir masih memakai identitas Islam.

Ketika Nahdlatul Ulama didirikan, Nusantara berada di bawah penjajahan Belanda, dikenal dengan sebutan Hindia Belanda. Itu sebabnya ketika Turki Utsmani dikalahkan dalam perang dunia pertama, sebetulnya Nusantara tidak kalah, sebab kita bukan bagian dari Turki Utsmani. Delapan tahun setelah Perang Dunia Pertama, pada 1926, atau 1344 H, Nahdlatul Ulama (NU) didirikan. (Mengutip buku: PBNU “PERJUANGAN BESAR NAHDLATUL ULAMA”, Tajdid Jam’iyyah Untuk Khidmah Millenial, Yahya Cholil Staquf) (20/01),

(Abdul Majid Ramdhani, penulis merupakan alumni Pesantren Al-Hamidiyah, Depok dan kini aktif menulis di berbagai media online, menulis buku dan founder Komunitas Gerakan Penulis Santri (GPS)).

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close