Opini

Cerita Pendek Tentang Cerita Pondok

“Yang galau biarlah berlalu, karena memaafkan masa lalu tidak mengurangi wibawamu” ujar Ali kepada sahabatnya, Adib, yang kini diamanatkan menjadi kepala asrama Putra di Pesantren Al-Madaniyyah.

Kepulan aroma semerbak kopi panas beradu dengan alunan suara bunyi jangkrik yang khas dan saling bersahutan, sehingga menambah suasana obrolan ringan kedua sahabat ini terasa romantis. Ali dan Boim di malam minggu itu saling bercerita tentang era-era kesombongan masa remaja mereka semasa di asrama.

Ali dan Adib telah sama-sama mencicipi masa pahit dan getirnya selama enam tahun berproses belajar Ilmu Agama Islam di Pondok Pesantren milik Kiai Masbuk, Pesantren Al-Madaniyyah.

“Kita Nostalgia, nih Liiii…” celetuk Adib. Lantas sahabatnya tersebut memberikan sebungkus rokok kretek kampung yang menjadi favoritnya Ali. Ali pun tertawa sampai terpingkal-pingkal.

“Gaya banget nih, Pak Ustadz Adib Multazam. Segala menjamu sebegininya.” Ali sedikit bergurau. Adib pun bereaksi dengan menepuk kopiyahnya ke bahu Ali dan keduanya tertawa.

“Li, kita itu pernah berada dalam kepungan “pasukan berjubah” keamanan asrama karena kita ketahuan tidak ikut sholat berjamaah di Masjid. Ingat kan?” Adib melanjutkan obrolan.

“Sangat dan masih tersimpan di memori kepalaku ini.” sahut santai Ali sambil ia mengepulkan asap rokok.

“Belum lagi, metafora Ilmu-ilmu Agama yang sangat mempesona logika. Tetapi kita tidak sekalipun gentar dan menyerah dengan keadaan itu. Apalagi sampai kepikiran nih, untuk segera “berhijrah” ke sekolah lain seperti sahabat perjuangan kita yang lainnya itu.” Tegas Ali.

“Dib, kita menjalani semua prosesnya dengan kegembiraan. Santri yang menyilaukan langit adalah santri yang sukarela menahan pahitnya menuntut ilmu di bumi.” ujar Ali lagi lalu meyeruput kopinya. Sruup.

“Di mataku, menulis puisi tanpa menyeduh sendu dan risau, bagai menyeruput kopi basi yang telah menjadi dingin. Tidak sedap untuk dicecap” lanjut Ali, sedangkan Adib justru asik mendengarkan segala hal-hal yang dikatakan oleh Ali, sambil Adib mengunyah pisang goreng.

“Perjuangan dengan segala cara tak apa, asalkan demi kemanusiaan.” ujar Ali seraya ia memegang buku tebal yang berisikan kumpulan puisi, karya-karya puisi dari para penyair muda yang diterbitkan oleh penerbit kenamaan.

“Dib, aku akan tetap melanjutkan tulisan, tidak peduli kalau di kemudian hari, ada serangan hujan kritikan, aku akan menghadapinya dengan kepala dingin” Tegas Ali. Kepulan asap rokok menyeruak ke seisi ruang kamar Adib, yang berada di dekat kantor pengasuh pondok.

Pernah ada airku yang jatuh di bahumu sahabat. Yang kau duga itu sebagai tumpahan keputusasaan dalam menghafal Nadhom Imriti dan Alfiyah. Tetapi di kala itu semangatku hanya sebatas meraba-raba karya Kahlil Gibran, dan berhalusinasi mengusap-ngusap dan menciumi “tangan” Jalaludin Rumi di saat menulis puisi. Jelas kamu tahu momen itu kan, Dib?” Ali kembali teringat peristiwa haru di waktu Ali masih mondok bersama Adib pada lima belas tahun silam.

“Kita tak pernah sopan pada kopiah, hanya sebatas doyan mengunyah sajian-sajian menu ceramah semata, tanpa betul-betul menyerap makna dari setiap kata yang disampaikan oleh guru-guru kita. Lalu terkesima dan merasa sudah kenyang. Kemudian menjadi manusia paling paripurna di antara manusia lainnya.” Adib menerangkan pada Ali dengan penuh rasa percaya diri.

“Namun, terlepas dari ketidaktahuan kita itu, kita sama-sama tahu kalau raga kita selalu ditenagai oleh Bismillah, bekal yang selalu kita bawa kemana-mana sedari masih awal menjadi Santri baru disini.” Adib lagi-lagi membuat Ali terdiam.

“Iya Ustadz…” sindir Ali dengan tertawa ringan.

“Berharap pucuk-pucuk hikmah merekah, menjadi hamparan taman buah pengetahuan. Yang syukur-syukur generasi selanjutnya dapat bersemangat untuk merawat serta memberikan manfaat” sahut Boim sambil merangkul bahu sahabat karibnya itu.

Pada malam minggu itu dimana Ali berkesempatan menyambung silaturahmi ke Pesantren-nya dan tidak menyangka kalau Adib sahabatnya itu telah menjadi seorang Kepala Pengasuh Asrama Putra.

Hujan turun deras sekali, basuhan air hujan yang berjatuhan ke bumi menjadi semacam pertanda, bahwa setinggi apapun cita-cita kita, pada akhirnya semua itu akan memberikan makna, jika sikap kita tetap membumi atau tahu tempat kita berpijak.

“Li, biarlah kamu melangitkan karya, tetapi tetaplah membumikan gaya.” Adib memberikan nasihat.

“Terharu aku mendengar itu sahabat. Jazakumullah Khairan Katsiran…” ucap Ali dan memeluk sahabatnya.

Ketika mata pena bertutur makna, untaian-untaian aksara menjelma berbagai cerita drama tentang romantika anak-anak asrama, sebagaimana peristiwa tawa menjadi cerita komedi, peristiwa rasa menjadi cerita drama, peristiwa pertikaian menjadi cerita action, atau peristiwa yang tak kasat mata bisa menjadi cerita horor. Ali di malam itu, memetik pucuk-pucuk kenangan yang tetap tumbuh tanpa dipelihara. Lalu ia membiarkan taman pengalaman batinnya semasa di asrama menebarkan aroma wangi pelajaran hidup bagi dirinya juga teman-teman Santri lainnya di Pesantren Al-Madaniyyah.

“Bahwa santri biasa seperti kita-kita ini tidak perlu mati-matian mengejar kesuksesan dan kemapanan. Karena guru-guru kita telah menanamkan hal yang lebih menakjubkan bagi kehidupan, yaitu mengejar keberkahan hidup” ungkap Ali saat ia berdiskusi di hadapan para santri di ruang aula auditorium Pesantren dalam kegiatan pelatihan menulis.

Tangerang Selatan, 18 September 2022.

Abdul Majid Ramadhani, penulis merupakan lulusan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, dan kini aktif menulis buku puisi, cerpen, esai dan artikel berita di beberapa media online serta turut menjadi pegiat Lesbumi NU Tangerang Selatan.

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close