Khazanah

Cara Pandang Ibn Hajar al-Asqalani Menghadapi Wabah

Ibn Hajar al-Asqani termasuk di antara ulama Islam yang sangat perhatian terhadapa persoalan wabah thaun. Beliau menulis kitab berjudul “Badl al-Ma’un fi Fadhl al-Thaun”. Kitab ini dia tulis dilatarbelakangi musibah yang menimpanya. Ketiga putrinya wafat setelah semuanya terpapar wabah thaun.

Perasaan ditinggalkan orang-orang terdekatnya, ditulisnya menjadi satu karya. Dengan kalimat diskusi yang apik, beliau berusaha menjelaskan pertanyaan: Wabah thaun itu azdab atau rahmat?

Beliau kemukakan banyak sekali orang-orang saleh yang meninggal karena terpapar wabah thaun. Misalnya ulama yang memberikan tanda huruf al-Quran, Abul Aswad al-Duali (w. 69 H), sejarawan muslim Ibn al-Wardi (w. 749H.), ulama fiqh mazhab Syafii, Abdul Wahhab al-Subki (w. 771 H.) dan masih banyak lagi. Apa meninggalnya mereka karena terpapar wabah thaun menjadi azab (al-rijz)?

Beliau juga mengulas panjang lebar dua hadits yang dianggap “mendeskriditkan” orang-orang yang meninggal karena thaun. Masing-masing hadits Rasulullah Saw, sebagaimana berikut:

  1. على أنقاب المدينة ملائكة لا يدخلها الطاعون ولا الدجال”
  2. “اللهم العن شيبة بن ربيعة وعتبة بن ربيعة وأمية بن خلف، كما أخرجونا من أرضنا إلى أرض الوباء”

Secara tegas beliau mengatakan thaun adalah jenis penyakit, bukan adzab! Thaun adalah rahmat bagi ummat Islam karena menjadi jalan mati syahid.

Beliau menjelaskan alasannya itu bahwa thaun itu dapat mendorong ummat Islam: 1. Menjauhi maksiat. 2. Mengisolaai diri dari lingkungan yang lalai terhadap Tuhan. 3. Tidak berangan-angan yang aneh. 4. Menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat yang lebih kekal. 5. Berserah diri dengan mendekatkan diri kepada Allah. Dus, kalau sampai akhirnya meninggal dunia karena terpapar thaun, maka wafatnya adalah mati syahid.

Satu lagi yang menarik dari ulasan Ibn Hajar bahwa sepanjang sejarah wabah di dunia ini belum ada yang berakhir dan berjasil ditangani secara medis. Akan tetapi berakhirnya wabah umumnya karena kebosanan manusianya itu sendiri.

Penulis: M. Ishom el Saha

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close