Keislaman

Cara Memberi Isyarat Kepada Orang yang Lewat di Hadapan Orang Shalat

Jama’ah bertanya?

Assalamualaikum yai @⁨Ki Kelana LD NU Depok⁩
Minta ta’bir masalah memberi isarat kepada orang yang lewat di hadapan orang sholat. Apakah benar dengan menjulurkqn tangan ke depan?

Ustadz Ki Kelana menjawab.

Dalam hal ini disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat mengetahui dosa yang akan dipikulnya, maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya” [HR. Al-Bukhaariy dan Muslim].
Menurut riwayat Al-Bazzaar dari jalan lain :

أَرْبَعِينَ خَرِيفًا

“(lebih baik berdiri) empat puluh tahun”.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Apabila seorang di antara kamu shalat dengan memasang sutrah[1] yang membatasinya dari orang-orang, lalu ada seseorang yang ingin lewat di hadapannya, hendaknya ia mencegahnya. Bila ia tidak mau, perangilah dia sebab sesungguhnya dia adalah setan “ [HR. Al-Bukhaariy dan Muslim].

hukum dari melewati orang yang sedang shalat, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang kuat, hukum lewat di depan orang yang sedang shalat adalah haram. Sedangkan menurut Imam al-Ghazali, lewat di depan orang yang sedang shalat tidaklah sampai berakibat hukum haram, tapi hanya sebatas makruh. Meskipun pendapat yang dianggap shahih (benar) menurut Imam Baghawi dan para ulama lain adalah hukum haram.

Penjelasan ini seperti yang tercantum dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

إذا صلى الي سترة حرم علي غبره المرور بينه وبين السترة ولا يحرم وراء السترة وقال الغزالي يكره ولا يحرم والصحيح بل الصواب انه حرام وبه قطع البغوى والمحققون

“Jika seseorang melaksanakan shalat dengan sutrah (penghalang) maka haram bagi orang lain lewat diantara orang yang sedang shalat dan sutrah, sedangkan lewat di luar sutrah adalah hal yang tidak diharamkan. Imam Al-Ghazali berpendapat (hukum lewat di depan orang shalat) makruh, tidak sampai haram. Namun pendapat yang shahih bahkan pendapat yang benar bahwa sesungguhnya lewat di depan orang shalat adalah haram. Pendapat demikian adalah yang dipastikan (tanpa keraguan) oleh Imam Baghawi dan ulama lain yang ahli memutuskan hukum beserta dalilnya” (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 3, Hal. 249).

Meski dihukumi haram, namun ada saat-saat tertentu bagi seseorang diperbolehkan melewati orang yang sedang melaksanakan shalat, misalnya ketika akan buang hajat, tidak ada jalan lain selain melewati orang yang sedang shalat, serta keadaan-keadaan lain sekiranya melewati orang yang shalat terdapat sisi kemaslahatan yang melampaui kemudaratan melewati orang yang sedang shalat.

Seseorang diperbolehkan melintas pula saat orang yang shalat ceroboh, misalnya, dengan membiarkan shaf di depannya kosong lalu melaksanakan shalat di tempat yang biasa dilewati orang. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa melewati orang yang shalat adalah perbuatan yang diharamkan, atau setidaknya—menurut Imam al-Ghazali—makruh. Pendapat yang paling kuat adalah haram. Keharaman ini akan menjadi hilang ketika terdapat uzur yang meperbolehkan lewat di depan orang yang shalat.

Tidak mengapa atas satu keperluan bagi seseorang melewati makmum ketika shalat berjama’ah berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbaas, bahwasannya beliau berkata :

جِئْتُ أَنَا وَالْفَضْلُ عَلَى أَتَانٍ لَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِعَرَفَةَ، …. فَمَرَرْنَا عَلَى بَعْضِ الصَّفِّ فَنَزَلْنَا وَتَرَكْنَاهَا تَرْتَعُ، فَلَمْ يَقُلْ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا

“Aku datang bersama Al-Fadhl dengan menunggangi keledai betina, sedangkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam waktu itu sedang shalat mengimami orang-orang di padang Arafah….. Lalu kami melewati sebagian shaff (lalu) turun padanya, dan kami biarkan keledai makan rumput. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata sepatahpun kepada kami tentang hal itu” [HR. Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, dan An-Nasaa’iy].[3]

Hal Ini merupakan taqrir (penetapan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas perbuatan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin membiarkan kemungkaran yang ada di depannya kecuali beliau cegah.

Cara untuk mencegah agar orang tidak sembarang lewat dengan:

  1. menggunakan Penanda yg baik itu sejadah maupun lainnya.
  2. Jika seseorang tersebut melewati tanda padahal masih ada jalan makan gunakan Isyarat tangan dg satu tangan di bentangkan kedepan bukan dg cara di dorong atau melukai.
  3. Jika seorang anak kecil yg lewat berlari maka dg bentangkan satu tangan jika tidak mengerti biarkan saja memaklumi karena anak kecil yg belum mengerti jgn sampai di marahi atau di dorong sampai terjatuh.

Wallahu a’lam.

Jawaban diampu oleh Ki Kelana Wakil Ketua LDNU Kota Depok.

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close