DaerahWarta

Beri Wawasan Ekstremisme Kekerasan, Wahid Foundation Ingatkan Pentingnya Pencegahan

Dalam rangka memberikan akses Keadilan Perempuan, Wawasan Ekstremisme Kekerasan (Violence Extremism) menjadi salah satu  materi penting yang diberikan perempuan dalam rangkaian kegiatan Training Akses Perempuan Terhadap Keadilan. Hal ini yang menjadi tujuan utama kegiatan yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation selama tiga hari pada tanggal 18-20 Juni 2021.

Pelatihan yang diselenggarakan di The Margo Hotel tersebut diikuti oleh 30 Perwakilan Tim Kelompok Kerja (Pokja) Desa/Kelurahan Damai di Jawa Barat (Tajurhalang, Pengasinan dan Duren Seribu) dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat.

Materi Wawasan Ekstremisme Kekerasan ini menjadi materi dalam Training tersebut mengingat tingginya tren kasus ekstremisme kekerasan dalam survey yang dilakukan oleh Wahid Foundation selama 2 dekade terakhir. Pelatihan ini juga diharapkan agar  Pokja Desa Damai tidak gagap terhadap istilah ekstremisme kekerasan yang kerap muncul. Selain itu, wawasan ekstremisme kekerasan mulai diperkenalkan kepada Pokja Desa Damai binaan Wahid Foundation sebagai andil dalam menyukseskan Perpres Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah Pada Terorisme (RAN PE).

Fadil Muhammad, salah satu peserta dari pokja Desa Tajurhalang menyatakan bahwa dirinya mendapatkan wawasan baru terhadap pemahaman ekstremisme kekerasan, radikalisme, dan intoleran. Menurutnya, dalam banyak kesempatan, tiga kata tersebut selama ini hanya diartikan sebagai kekerasan saja, namun kenyataannya, banyak perbedaan mendasar dari ketiganya.

“Selama ini orang kalau mendengar radikal atau ekstrem intinya hanya keras dan sesat saja, tetapi ternyata tidak hanya sampai di situ,” ujar Fadil.

Narasumber dalam pelatihan ini, Alamsyah M Djafar, Peneliti Senior The Wahid Foundation  mengatakan ada beberapa alasan kenapa seseorang atau kelompok melakukan extremisme kekerasan.

“Tidak setiap orang melakukan kekerasan itu radikal, karena radikal dipicu oleh keyakinan, ideologi, dan hal-hal sekuler. Jadi misalnya ada kelompok yang mengajak berbuat kekerasan dan disebarkan melalui ideologi. Sedangkan ektremisme kekerasan, bisa diartikan keluar dari arus utama,” Papar Alam.

“Jadi, kalau ada orang memaksakan kehendak menggunakan kekerasan, maka itu bentuk ekstremisme kekerasan. Ekstrem juga tidak bisa dibatasi sejauh tidak menggunakan kekerasan. Karena kalau dibatasi, ini melanggar kebebasan berekspresi. Kalau intoleran, sebenarnya relevan ketika ada dua kata kunci: perbedaan dan ketidaksukaan. Jadi toleransi menghargai hak-hak dasar. Kalau sama, tidak perlu ada toleran, justru toleran itu ada ketika kita berbeda”, pungkas Alam.

Adanya pembekalan Wawasan Ekstremisme Kekerasan ini Wahid Foundation berharap  Pokja Desa Damai mampu mendeteksi dan melakukan pencegahan terhadap praktek-praktek ekstremisme kekerasan di lingkungan mereka.

Kontributor : Maulana Malik

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close