DaerahLembaga & Otonom

Berguru Kepada Banser

Percaya atau tidak, banyak anggota Banser yang dalam DNA-nya mengalir genetika pengawal ulama. Artinya, jika ditelusuri, leluhur mereka, dahulunya anggota laskar Diponegoro yang berdiaspora di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jika tidak, bisa dipastikan bapak maupun simbah mereka dulu pernah nderek (menyertai) kiainya bertempur dalam perang kemerdekaan maupun mengawal para ulama dalam ontran-ontran 1965. Ada jiwa keperwiraan yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, meski Banser dirundung, diolok-olok dan difitnah, sampai kapan pun tetap ada peminatnya karena memang punya suplier tetap. Bukti lain, peminat Diklatsar dan Susbalan, dua pola rekrutmen dan seleksi anggota, dari tahun ke tahun terus meningkat.

Pola pengawalan dan pengawalan protap-nya juga semakin bagus. Kedisiplinan anggota juga meningkat. Dulu, beberapa anggota Banser berdiri menjaga pengajian diselingi rokok yang menyempil di jarinya. Kini, tidak lagi. Bukan karena mereka tidak merokok, melainkan aturan yang semakin diperketat: jangan merokok saat bertugas. Kalau pengen kebal-kebul harus menyingkir dulu, sambil melepas baret hitamnya.

Soal rokok ini, KH. Hasyim Muzadi pernah meledek mereka. Banser itu berpenampilan meyakinkan, sayang rokoknya eceran. Hehehe. Yang diledek hanya terbahak saja.

Kontribusi ke masyarakat juga ditingkatkan. Pembentukan satuan khusus, seperti Banser Tanggap Bencana (Bagana), yang bertugas di daerah tertimpa bencana; Banser Penanggulangan Kebakaran (Balakar), Banser Protokoler, berfungsi mengatur, menata, dan mengelola acara kenegaraan, organisasi atau acara resmi sesuai dengan perencanaan kegiatan, Banser Maritim (Baritim), yang punya kemampuan dalam menjaga konservasi laut, maupun sigap dalam membantu kecelakaan di pantai. Semacam Tim-SAR laut. Biasanya dibentuk di kawasan pesisir.

Soal militansi, nekat, loyalitas dan keikhlasan, saya angkat kopiah kepada mereka. Soal seragam, walaupun kadang disediakan, lebih banyak dari mereka yang membeli sendiri. Kadang bahkan dengan mencicilnya. Alasannya, lebih mantap di hati. Soal bayaran tentu saja mereka nggak dapat fee saat menjaga pengajian dan pengawalan. Meski panitia biasanya juga menyediakan kopi, rokok dan nasi berkat buat oleh-oleh ke keluarganya. Soal loyalitas dan militansi, kadang bikin geleng-geleng. Ketika diperintah komandan berjaga di satu titik, mereka betah berdiri mematung berjam-jam. Bahkan di bawah terik matahari yang menyengat sekalipun.

Soal kepolosan dan kekonyolan polah tingkah anggota Banser, saya malah teringat manakala Belanda melakukan agresi militer 1 (Juli 1947). Yang dihadapi serdadu Belanda saat itu bukan TNI, yang masih membentuk diri, melainkan para milisi lokal yang selain loyal pada warlord-nya, juga tidak memiliki senjata komplit. Polah tingkah-nya juga unik dan menggelitik (film-film perang kemerdekaan Indonesia pasti menampilkan kelakuan laskar rakyat yang lucu-lucu ini, yang tidak pernah kita jumpai dalam film Hollywood ala Rambo, misalnya)

Dalam Agresi Militer 1 yang dihadapi serdadu bule itu ya laskar-laskar rakyat yang terdiri dari orang-orang ikhlas macam ini. Sebab, agresi militer 1 ini merangsek ke pelosok, ke desa-desa, yang bertujuan memberangus kantong-kantong pejuang rakyat. Agresi sengaja dilaksanakan pada bulan Ramadan dan puncaknya Belanda berhasil merebut kota Malang, basis milisi Hizbullah, kelaskaran muslim yang anggotanya antara lain terdiri dari mantan aktivis BANOE (Barisan NO, embrio Banser), dan Sabilillah, kebadanan para ulama. Jatuhnya kota Malang di tangan Belanda, Juli 1947, ini yang menyebabkan KH. M. Hasyim Asy’ari syok hingga berujung kewafatan beliau.

Pembakaran beberapa pesantren yang dilakukan satuan baret merah Belanda juga banyak dilakukan saat agresi militer pertama ini.

Soal latarbelakang juga variatif. Dalam keseharian, ada hafidz Al-Qur’an yang juga kiai pengasuh pesantren seperti Ustadz Abdul Haris, Bupati seperti Cak Thoriqul Haq (Lumajang) dan Gus Yusuf Irsyad (Pasuruan), dosen, pengusaha dll. Ada juga yang berlatar belakang tukang becak tapi punya kemampuan baca kitab yang mumpuni dan koleksi kitab berjilid-jilid seperti almarhum Cak Hamid, Banser Surabaya, tapi banyak pula yang dalam keseharian menjadi penjual cilot, pedagang asongan, bakul es degan, pemilik warkop, tukang pijat, petani penggarap, maupun peternak.

Pulang dari tugas, mampir ngarit, lalu tanpa canggung membawa rumput di sak yang ditaruh di atas jok motor. Ada juga yang sepulang berjaga, motor bututnya mogok kehabisan bensin, mau telepon minta bantuan nggak punya pulsa, hingga akhirnya menuntun motornya ratusan meter. Mau beli bensin isi kantong kosong tanpa fulus (dompet nggak bawa), akhirnya diselamatkan oleh sesama kawannya yang tugasnya paling akhir. Ya ngenes, lucu, kasihan, tapi juga salut dengan keikhlasan mereka.

Dari yang alim hingga yang awam semua ada di barisan Banser. Dari yang hafal Al-Qur’an hingga mantan preman, diterima senang hati di barisan ini. Dari yang menguasai khazanah keilmuan klasik hingga kajian kontemporer, semua ada dalam satuan ini. Niatnya khidmah, mengabdi, juga menjaga ulama dan menjadi benteng NKRI.

Ada rumor;

“Besok, Banser itu masuk surga terlebih dulu daripada kiainya,” kata Gus Muwafiq, dalam sebuah pengajiannya.

“Kok bisa Gus?”

“Jelas bisa, wong mereka bagian cek lokasi, kok!

Tulisan terinspirasi dari kegiatan pengamanan Banser
Pada pelaksanaan Milad Mubarak INAIFAS ke-22, Kencong-Jember, Jawa Timur

Penulis : Rijal Mumazziq Z (Dosen dan Pegiat Media Sosial)

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close