Keislaman

Belajar dari Seorang Biksu Cilik

Dikisahkan pada suatu hari ada seorang biksu yang berusia masih sangat muda bernama Ikkyu sedang berjalan tergesa-gesa membawa tas yang sangat berat dengan wajah tampak serius.

Kakak seperguruannya bertanya, “Dari mana kok buru-buru banget?”

“Enggak tahu,” jawab Ikkyu.

“Lalu mau ke mana?” tanya kakak seperguruannya lagi.

Biksu muda ini kemudian menjawab dengan singkat dan bernada ketus, “Enggak tahu.”

Karena merasa kesal dan jengah, kakak seperguruannya lalu bertanya lagi. “Kenapa selalu menjawab enggak tahu?”

“Aku tahu kok,” jawab sang biksu muda dengan santainya.

“Jadi kamu tahu nih?” tanya kakak seperguruannya lagi untuk memastikan.

“Aku enggak tahu,” jawab Ikkyu singkat sembari berlari meninggalkan kakak seperguruannya tersebut.

Dialog di atas merupakan obrolan tingkat tinggi yang merefleksikan dan mengajarkan tentang hakikat makna kehidupan.

Pertanyaan pertama yaitu dari mana dan mau ke mana, pertanyaan ini merupakan pertanyaan simbolik yang mengandung arti dari mana kita berasal sebelum dilahirkan ke dunia dan ke mana kita akan pergi setelah mati. Jawabannya tentu tidak ada yang tahu.

Beranjak pada pertanyaan berikutnya yaitu pertanyaan kenapa selalu menjawab tidak tahu. Sang Biksu menjawab bahwa ia tahu, karena memang kita sebagai umat manusia sama-sama tahu bahwa kita semua akan mati.

Akan tetapi saat ditanyakan kapan kita akan mati, tentu jawabannya kita tidak tahu dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Dari sini dapat dipahami bahwa ada banyak dimensi dalam hidup ini yang penuh akan misteri. Namun kita tetap bisa dan mampu menjalaninya dengan baik dengan mengikuti tuntunan jiwa dan hati kita.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Artinya:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Mengenal diri merupakan sebuah kegiatan yang memiliki kompleksitas sangat tinggi. Dalam hal ini mengenal diri tidak diartikan seperti halnya kita mengetahui nama kita, siapa orang tua kita, dan lain sebagainya. Namun lebih dari itu kita berupaya untuk menelisik dan memahami tujuan serta hakikat kehidupan kita di dunia.

Di samping mempelajari dan memahami ayat-ayat kauniyah (alam semesta), kita juga harus mau dan mampu mempelajari juga memahami ayat-ayat Tuhan yang terkandung dalam kitab suci Alquran. Karena Alquran merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.

Hal serupa juga disampaikan oleh Santo Y Berchmans seorang tokoh Katolik dari Belgia yang menyatakan bahwa “Barang siapa terus berjalan tanpa menyeleweng ke kiri dan ke kanan, sebentar saja ia akan sampai pada kesempurnaan.”

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siklus kehidupan manusia di dunia itu fana dan tidak abadi. Oleh karenanya sudah sepatutnya kita sebagai hamba Allah yang selalu diberikan banyak kenikmatan senantiasa bersyukur dan mulai mempersiapkan diri juga menabung untuk bekal di akhirat kelak.

Wallahu a’lam

Kontributor: Eqtafa Berrasul Muhammad

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close