Khazanah

Belajar dari Kisah Unta yang Mengadu Pada Rasulullah atas Keburukan Majikannya

Dalam sebuah riwayat diceritakan pada suatu hari saat sahabat Uqa’il sedang berjalan bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ada seekor Unta yang tiba-tiba melompat dan berlari ke hadapan Rasulullah. Tak disangka Unta itu bisa berbicara, ia berkata.

“Wahai Rasulullah, tolong lindungilah aku!” pintanya.

Belum sempat sang Unta melanjutkan aduannya, seorang Arab Badui datang sambil membawa pedang yang terhunus.

Lalu Rasulullahpun bertanya padanya.

“Apa yang kamu lakukan pada Unta ini?” tanya Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, aku membeli Unta ini dengan mahal. Akan tetapi binatang ini tidak mau menuruti perintahku, oleh karenanya lebih baik aku menyembelihnya sehingga dagingnya bisa kuberikan pada orang-orang yang membutuhkan,” jawab seorang Arab Badui tersebut.

Kemudian Rasulullah bertanya pada sang Unta.

“Wahai Unta, mengapa kamu tidak menurutinya?”

“Ya Rasulullah, sungguh aku tidak bermaksud begitu. Akan tetapi hal ini dikarenakan dia telah berlaku tidak baik. Dia sering tertidur dan lalai untuk melaksanakan shalat Isya. Jika dia mau berjanji untuk rajin shalat Isya, maka aku akan menurutinya,” jawab sang Unta pada Rasulullah.

Setelah mendengar penjelasan dari seorang Arab Badui dan sang Unta, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menyuruh seorang Arab Badui itu untuk berjanji, dan kemudian menyerahkan Unta yang dapat berbicara itu kepadanya. Akhirnya ia dan Unta peliharaannya pun pulang.

Dari sini dapat dipahami bahwa binatang adalah makhluk yang peka dan tahu perbuatan baik dan buruk, serta dapat merasakan apa yang diperbuat oleh majikannya. Selain itu dari penggalan kisah di atas dapat disimpulkan bahwa binatang itu suka pada majikan yang baik, shalih-shalihah, dan penyayang pada binatang. Sebab binatang dapat berubah menjadi jahat dan tidak patuh pada majikannya karena kejahatan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh majikannya. Begitu pula sebaliknya jika majikannya adalah orang yang berbudi pekerti baik dan shalih-shalihah, maka binatang peliharaannya pun akan nurut dan patuh padanya.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kita sebagai umat manusia untuk saling mengasihi dan menyayangi, bukan hanya pada sesama manusia, melainkan juga pada binatang, tumbuhan, dan makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang lainnya.

Wallahu A’lam

Kontributor: Eqtafa Berrasul Muhammad

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close