DaerahLembaga & Otonom

Banser : Pasukan Berani Mati Tanpa Senjata ‘Menyerbu’ Asrama Haji, Pondok Gede di Hari Sumpah Pemuda.

‘Pasukan Berani Mati Tanpa Senjata’ ini yang saya kagumi sejak melihat pertama kalinya secara langsung dalam perhelatan acara peringatan Haul Gus Dur ke-7 bulan Desember di sekitar tahun 2016-an di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Kala itu nampak ribuan orang dari berbagai daerah juga mulai berdatangan ke tempat acara haul mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut. Dan di tengah-tengah ribuan warga Nahdliyin yang telah berdatangan ke lokasi acara.

“Ngapunten, kenapa motif lorengnya begini, Mas Banser?” Momen pertama bagi penulis untuk berani menyalami dan bertanya secara spontan.

“Kalau motif yang saya kenakan ini mas, merupakan seragam dengan desain motif loreng baik pada kemejanya maupun celana yang dikenakan oleh para Banser. Seragam setelan yang dilengkapi dengan pemakaian topi baret sehingga terlihat seperti barisan TNI” tutur salah seorang anggota Banser yang sedang menjaga area luar lokasi acara.

Pemandangan luar biasa yang terulang lagi di masa kini dan telah membuat bulu kuduk saya berdiri dan ikut menghormati para Banser yang hadir dan memadati area Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat, 28 Oktober 2022.

Ada cultural dimension yang mempengaruhi semua aspek pada tubuh organisasi Banser. Cultural dimension (menunjukkan efek budaya masyarakat pada nilai-nilai anggotanya, dan bagaimana nilai-nilai ini berhubungan dengan perilaku, menggunakan struktur yang diturunkan dari analisis faktor.) Tetapi tidak ada power distance, yang berarti ialah jarak kekuasaan mengacu pada hubungan antara otoritas dan individu bawahan yang tergantung pada bagaimana yang terakhir bereaksi, atau dimensi ini dapat mengungkapkan sejauh mana anggota masyarakat yang bukan pemangku kepentingan (less powerful) menerima dan memperkirakan bahwa kekuasaan didistribusikan secara tidak merata.

Dan masalah mendasar di sini adalah, bagaimana masyarakat menangani ketidaksetaraan di antara mereka. Saya tidak melihat hal itu di dalam aspek kepemimpinan Banser-Ansor. Bahkan saya merasakan ada warisan pemikiran dan kepemimpinan dari para kyai yang lebih mengandalkan sikap Tawassuth yang menjunjung tinggi berlaku adil dan menghindari segala bentuk sikap ekstrim.

Adapun tercermin dari para Banser adalah sikap Tawazun, sikap seimbang dalam berkhidmah baik perihal hablum minallah dan hablum minannas. Dan sikap sosial terhadap sesama manusia sangat dijalankan dengan sangat baik. Dan terakhir Tasamuh, toleran terhadap perbedaan, dari masalah keagamaan, kemasyarakatan dan juga kebudayaan.

Kegiatan DIKLATSAR AKBAR yang diselenggarakan di Gedung Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, yang berlangsung sejak tanggal 28-30 Oktober tahun 2022 ini dan akan merekrut 1000 kader baru Banser tentu menimbulkan paradigma yang positif terhadap kekuatan Banser NU (Barisan Ansor Serbaguna) Nahdlatul Ulama di era digitalisasi atau era-nya Kaum Milenial seperti sekarang ini.

Generasi kader-kader baru yang turut mendaftarkan diri bergantian nampak memenuhi meja registrasi area Asrama Haji, Pondok Gede. Kaum muda milenial turut serta dan bergabung bersama Banser, (Barisan Ansor Serbaguna) Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama dari Gerakan Pemuda Ansor. Tentu kader-kader baru tidak hanya dibekali dengan ghirah belajar tentang seni mengelola kepemimpinan semata, tetapi juga dituntut untuk menjadi garda terdepan membela bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) serta menjaga dan cinta terhadap para ulama. Jumat, (28/10)

(Abdul Majid Ramdhani).

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close