InternasionalIslamSejarah
Terkini

BAHAYA RADIKALISME

Bibit-bibit radikalisme di kalangan umat Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi Muhammad SAW ketika selesai dari perang Hunain, ada seorang bernama Dzul Khuwaishiroh dari bani Tamim yang “memprotes” Nabi dalam pembagian rampasan perang. Pada saat itu Nabi sangat marah dan mengatakan bahwa orang ini akan mempunyai pengikut yang “berlebihan” dalam memahami agama. Dan ternyata apa yang dikatakan Nabi benar adanya. Ketika selesei perang shiffin yaitu peperangan antara Mu’awiyah dan sahabat Ali RA muncullah kelompok radikal Khawarij yang mempunyai pandangan sangat keras, menganggap bahwa sahabat nabi adalah kafir.

Hingga sampai sekarang juga masih ada kelompok-kelompok radikal di kalangan umat Islam. Kita mengenal Harakat Syabab Islami di Somalia, ada kelompok Boko Haram di Nigeria, ada Al-Qaeda di Afghanistan dan ISIS (Islamic State in Iraq and Sham) di Irak. Di Indonesia ada Mujahideen Indonesia Barat, Jamaah Tawhid Wal Jihad, Forum Aktifis Syariah Islam dan lain sebagainya. Semua kelompok-kelompok itu mengatasnamakan agama Islam, sehingga banyak umat Islam yang pemahamannya masih dangkal, mengikutinya dengan dalih jihad fi sabilillah, mendapatkan bidadari surga dan lain sebagainya. Munculnya kelompok-kelompok tersebut sangat mengganggu langkah dakwah Islam moderat yang mengusung Islam Rahmatan Lil’alamin. Islam yang santun, Islam yang menghargai sesama seperti apa yang di dakwahkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Lalu bagaimana sikap kita? Menyikapi pemikiran radikal, kita perlu menempatkan setiap ayat-ayat “radikal” sesuai porsinya masing-masing agar masalahnya menjadi jelas. Kita harus memahami sejarah dakwah Nabi kita Muhammad SAW. Nabi mengawali dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi sampai pada akhirnya terang-terangan. Kemudian peperangan yang dilakukan Nabi dan sahabatnya karena terzalimi dan untuk mempertahankan diri. Semua peperangan terjadi karena Nabi dihadapkan pada situasi yang mengharuskan beliau mempertahankan diri. Beberapa peperangan seperti perang Badar pada tahun ke – 2 Hijrah, perang uhud tahun ke – 3 Hijrah, perang Ahzab pada tahun ke – 5 Hijrah, Fathu Makkah pada tahun ke – 8 Hijrah sampai perang Tabuk tahun ke – 10 Hijrah, semuanya bukan Nabi yang memulai, melainkan kaum kafir Qurays yang memulainya.

Selanjutnya kita harus memperhatikan misi Agama Islam adalah menebar kasih sayang ke seluruh alam semesta (rahmatan lil’alamin). Agama Islam tidak menginginkan peperangan, sebagai manusia kaum muslimin juga tidak menginginkan peperangan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Juga Islam mendambakan perdamaian sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 61 yang artinya “Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Dia Maha mendengar, Maha Mengetahui.”

Karena paham radikalisme ini berbahaya, maka dari itu kita harus mendidik generasi penerus agar terhindar dari ajaran radikalisme. Orang tua harus memiliki pemahaman yang sama dalam membina keluarga. Dalam memilih tempat belajar juga harus memiliki track record yang jelas, tidak cenderung mengarah kepada radikalisme. Guru atau ustadznya juga harus memiliki kapasitas yang jelas, mempunyai mata rantai keilmuan atau sanad yang jelas agar ilmunya bermanfaat dan tidak menyesatkan. Keluarga juga harus memiliki “alarm” bagi anggota keluarganya apabila terindikasi ajaran-ajaran radikal. Semoga Indonesia selamat dari “penjajahan” ajaran radikalisme yang sedang berkembang. Wallahu ‘alam…..

Imam Nafi’ Junaidi

Tags

Artikel yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close